Ibu,
kenapa kau bisa tau
saat galau dan risau menggelayuti hatiku?
Apakah hatimu adalah hatiku dan hatiku adalah hatimu?
Saat aku jauh,
keseharianmu adalah menunggu
khawatirmu pun khawatirku
karenanya aku tak mau kau punyai rasa itu.
Seberapapun kemarahanmu kau luapkan padaku
masih sempat kau tanyakan, “Nak, apa kau sudah makan?”
Karena jengkel aku pun enggan menjawab.
Namun kau tetap tawarkan, “Makanlah, Nak. Ibu sudah siapkan di meja makan.”
Kau adalah satu-satunya yang membelaku
saat teman-teman dan selainnya mencaci maki kekuranganku
lalu kau memelukku seraya membisikkan,
“Kaulah yang paling sempurna di dunia ini, Nak! Ibu lengkap dengan hadirmu.”
26 tahun silam kau perjuangkan aku untuk bisa hadir bersamamu
menikmati hangatnya mentari di muka bumi ini,
begitulah kasih sayangmu menjelma
tulus tiada bandingnya.
Anakmu,
MisSane
