Archive for the ‘NonFiksi’ Category

h1

Biola

April 13, 2009

MisSane TalenTisT

Intro
Secara umum, musik adalah bunyi yang diterima oleh individu dan berbeda-beda berdasarkan sejarah, lokasi, budaya dan selera seseorang.

Bridge
Asal Usul Biola
Berbicara tentang musik, kita tidak akan terlepas membincangkan pula instrument  penghasil bunyi-bunyian musik itu sendiri. Juga Biola.

Biola termasuk salah satu alat musik dawai yang dimainkan dengan cara digesek. Alat musik dawai keluarga biola yang lain adalah Viola, Cello, dan Contrabass. Perbedaannya terletak pada ukurannya, namun cara berbunyi dan cara resonansinya sama. Deretan instrument musik tersebut adalah  kelompok alat musik inti yang mengisi orkestra simfoni kuno.

Menurut catatan kuno bangsa Aria di India, pada 5.000 tahun yang lampau, raja Ravana dari negara Sri Langka telah mencipta alat musik yang menggunakan senar-busur, yakni Ravanastron, kemudian Ravanastron menyebar ke Afghanistan, Persia, Tiongkok, wilayah Arab hingga ke Negara-negara Eropa seiring dengan perluasan pengaruh Islam ke Andalusia (Spanyol). Pada abad pertengahan di Eropa, wilayah perkembangan alat musik gesek ialah Italia, Jerman dan Perancis, meskipun asal usul alat musik gesek bukan di Eropa, tetapi telah dibesarkan dan berjaya di Eropa

Nama-nama Biola

Merunut sejarah asal usulnya, Biola mempunyai nama-nama sebagai berikut;  Ravanastron (India Kuno), Rebaba/Rebab (Arab), Rebec/Rebeca (Spanyol), Huqin (Tiongkok), Gadulka (Eropa Timur), Sarangi dan Sardi (India), Morinchur (Mongolia), Fiddle (Jerman), Violin (Latin Tengah, juga  Amerika-Inggris) dll.

Pembuatan Biola; Bahan dan Kualitasnya

Umumnya permukaan atas biola dibuat dari kayu spruce, sejenis kayu cemara, yang dipahat sehingga memiliki bentuk yang simetris dan diberi dua lubang suara (atau lubang-F, diberi nama demikian karena bentuknya). Sedangkan bagian belakang dan samping biola dibuat dari kayu mapel, biasa dipilih yang memiliki alur yang sama. Bagian belakang biola umumnya dibuat dari kayu utuh yang dipahat secara simetris.

Leher biola biasanya terbuat dari kayu mapel yang setipe dengan bagian belakang dan samping badan biola. Begitu juga dengan jembatan biola, terbuat dari bahan yang sama. Pada leher biola terdapat papan jari yang dibuat dari kayu eboni atau kayu lain yang dicat hitam. Kayu eboni sering dipilih oleh pengrajin biola karena sifatnya yang keras, menawan, dan tahan lama.

Busur biola terdiri dari sebatang kayu dan berhelai-helai rambut kuda yang dipasang dari satu ujung tongkat ke ujung yang lain. Rambut yang digunakan untuk busur biola ini biasanya diambil dari rambut ekor kuda putih jantan (rambutnya juga selalu bewarna putih keemasan), meskipun busur-busur yang lebih murah menggunakan serat sintetis. Jika busur biola rajin digosok dengan gala (Bahasa Inggris: rosin) akan membuat ‘cengkeraman’ busur ke senar menjadi lebih stabil dan terkontrol (tidak gampang lepas), dan dapat membantu teknik getaran. Batang kayu yang digunakan biasanya dibuat dari kayu pernambuco untuk hasil yang terbaik atau dari kayu brasil yang lebih murah, dan busur yang murah biasanya menggunakan serat gelas. Inovasi terakhir telah memungkinkan serat karbon untuk digunakan sebagai materi pembuatan batang kayu busur biola.

Senar biola. Senar dibuat dari usus domba, direntangkan, dikeringkan, lalu dipelintir. Pada suatu ketika ditemukan bahwa senar usus ini dapat dikembangkan dengan cara dicampuri logam. Hingga kini, senar modern banyak menggunakan baja padat, baja untingan, atau berbagai bahan sintetis.

Ukuran Biola

Anak-anak yang mulai belajar biola pada saat belum bertumbuh maksimal biasanya menggunakan biola yang berukuran lebih kecil yang dimulai dari yang terkecil 1/16, 1/10, 1/8, 1/4, 2/4 (1/2), 3/4, dan biola untuk dewasa 4/4. Kadang kadang biola berukuran 1/32 juga digunakan (ukurannya sangat kecil).

Panjang badan (tidak termasuk leher) biola ‘penuh’ atau ukuran 4/4 adalah sekitar 36 cm (atau lebih kecil menurut beberapa model dari abad ke-17). Biola 3/4 sepanjang 33 cm, 1/2 sepanjang 30 cm. Sebagai perbandingannya, viola ‘penuh’ berukuran sekitar 40 cm.


Reff

Bermain Biola

Untuk dapat memainkan sebuah biola bagi para pemula adalah suatu hal yang tidak mudah. Karena biola merupakan alat musik gesek yang juga sesekali dimainkan dengan cara dipetik (pizzicato) tidak mempunyai fret penanda jari seperti gitar. Oleh karenanya, para pengajar biasanya memberikan tanda fret sendiri pada biola murid-muridnya. Tanda-tanda itu disesuaikan dengan skala nada mayor.  Fret-fret tersebut umumnya ditandai dengan menggunakan isolatip putih atau tip-ex. Jika sering berlatih, tip-ex tersebut akan hilang sendirinya terhapus dengan jari saat menekan pada sekala yang tepat. Untuk dapat bermain biola, memang membutuhkan daya kesabaran yang luar biasa. Karena papan jari yang fretless, jika kita menekan pada titik nada yang salah maka hanya nada sumbanglah yang akan kita dengar. Umumnya, waktu berlatih biola bagi pemula adalah tiga sampai empat jam perhari.

Biola memiliki empat senar (G-D-A-E) yang disetel berbeda satu sama lain. Nada yang paling rendah adalah G. Di antara keluarga biola, yaitu dengan viola dan cello, biola memiliki nada yang tertinggi. Kertas musik untuk biola hampir selalu menggunakan atau ditulis pada kunci G.

Beberapa Istilah dalam Memainkan Biola
Biola, selain dapat dibunyikan dengan cara digesek, ada pula kreasi bermain biola dengan cara dipetik. Inilah yang disebut dengan pizzicato.

Double stops and drones. Pemberhentian ganda merupakan istilah untuk teknik memainkan biola dengan menggesek dua nada tertutup pada dua senar yang berbeda secara bersamaan, yang menghasilkan bunyi kord. Teknik pemberhentian ganda juga dapat dimainkan hanya dengan satu nada tertutup dan nada lainnya merupakan Senar terbuka. Tiga atau empat nada juga dapat dimainkan secara bersamaan oleh pemain yang mahir, yang masing-masing disebut dengan ‘pemberhentian ganda tiga’ dan ‘pemberhentian ganda empat’ (nada-nadanya dapat dimainkan secara bersamaan atau dengan melakukan teknik pemberhentian ganda dua kali).

Untuk memperoleh hasil suara yang lebih ekspresif dalam memainkan biola, biasanya pemain akan menggetar-getarkan senar diatas papan jari yang biasa kita sebut vibrato. Dalam tekhnik vibrato, yang perlu diperhatikan adalah gerak antara tangan dan lengan kiri. Karena dengan adanya variasi gerak antara tangan dan lengan juga akan menghasilkan bunyi getaran yang berbeda-beda.

Tremolo adalah istilah dalam memainkan instrument musik dengan cara dipetik berulang dengan kecepatan tinggi, biasanya dimainkan pada ujung atas tongkat/bususr biola. Tremolo tidak hanya dapat dimainkan dengan biola, tetapi segala alat musik petik, begitu juga gitar.

Col legno, memukul dengan kayu dari tongkat biola, bukan pada rambutnya. Tekhnik ini sangat jarang dimainkan.

Bermain harmoni berarti memainkan biola dengan cara mengiringi melodi. Pada saat menggesek, biola dibunyikan dengan cara menyentuh, bukan ditekan.

Martelé
, teknik menggesek dengan sedikit menekan gesekan tersebut hingga menambah aksen yang berbeda.


Ending

Biola bukan saja alat musik kelas atas, bukan juga alat musik yang hanya dimainkan oleh orang tua. Bukan pula alat musik yang hanya bermain jenis klasik selaiknya pada zaman Barok. Dewasa ini, biola banyak disukai kalangan muda karena beberapa pemain biola ahli memperkenalkan jenis pop dan rock dalam memainkannya. Sehingga memotivasi para muda untuk bisa memainkan biola dengan segala variasi gesek dan petik. Meski banyak pula yang mengira bermain biola adalah susah. Namun tidak ada hal yang sulit jika kita berlath dengan benar dan serius.

*disarikan dari berbagai sumber

h1

Komen Wihdah 2008-2009

March 24, 2009

Suzan Dwi Selawati

Salam semua untuk rekanita Wihdah. Semoga kita selalu dalam naungan rahmat dan ridha-Nya, amin.

Satu tahun adalah jangka waktu yang tidak sebentar bagi seseorang yang sedang mengemban tugas. Merupakan satu masa bhakti yang tidak ringan untuk dihadapi. Menjalankan mandat yang telah diamanatkan pada  satu kesepakatan bersama.

Begitu pula yang mungkin dapat dirasakan oleh rekanita kepengurusan Wihdah, khususnya para pengemban amanat periode 2008-2009. Sebagai organisasi kemahasiswaan yang bergerak dalam berbagai bidang, pengemban amanat Wihdah dituntut untuk bisa menyeimbangkan antara visi misi dan sosialisasinya. Seberapa banyak program kerja yang dirancang, seyogyanya dapat distandarkan dengan kondisi masisir. Hal ini dimaksudkan agar program kerja dapat terlaksana secara efektif dan efisien.

Tidak mudah memang untuk membentuk satu massa yang solid. Dengan melihat betapa beragamnya latar belakang dari masing-masing individu ataupun kelompok yang majemuk. Karenanya Wihdah diharapkan dapat menggiatkan komunikasi inter-external yang dapat diwujudkan dalam evaluasi rutinan, safari kekeluargaan, senat, atau bahkan temu asrama –melihat beragamnya tempat tinggal masisir yang tidak terpusat- untuk mempublikasikan acara dan mensosialisasikan program kerja.

Sebagai anggota yang berdomisili jauh dari komunitas Masisir. Kami sebisa mungkin untuk mengakses informasi melalui internet, mailing list, offline message, website dan blog ataupun kabar langsung dari teman saat berpapasan di jalan. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa kabar-kabar tersebut -penting ataupun tidak- agar sampai pada telinga kami belum bisa dipastikan akan sampai tepat waktu.

Harapan kami pada masa mendatang Wihdah dapat menggiatkan komunikasi dan mempublikasikan program kerja secara merata dengan memanfaatkan fasilitas tekhnologi ataupun melalui forum silaturrahmi. Menyeimbangkan antara visi-misi dan sosialisasi. Serta menyemarakkan kegiatan masisir sesuai kondisi yang dinamis.

Suzan Dwi Selawati @Asrama Muslimah Majlis A’la.

Tahrir,  6 januari 2009.

h1

Beware! A Mugger is Everywhere

December 2, 2008

Suzan Dwi Selawati

It was Saturday afternoon, November, 22nd. I went on the way to my friend’s house. It’s located in Nasr City, Gami station, 10th district. I’ve planned to take some costumes that I’ve left them a week before. Those costumes were planned to be worn in TeROBOSAN anniversary in our performance there. We had not worn them because those costumes were too small. Then we left them there in one of us.

I live in Tahrir. I had to take two transportations to get there, my friend’s house. In the middle of my way there, I sent SMS to him, made sure that he’s in home. He replied.

I arrived in Gami station about 2 pm. It was sunny afternoon. I saw people surround me were working as they usually do along the street. All around was crowded. Then I crossed an empty path toward my friend’s house. I saw a plastic pipe was watering the plants in the garden in front of my friend’s apartment building.

I walked alone the street. I didn’t realize that someone was following my way until I turned left entering the building’s gate. My eyes were caught a young boy walking after me. I guessed that he was a boy in senior high school who stayed in the same building with my friend’s.

I’ve just been entering the gate with no worry at all. He followed. Suddenly, I realized that I was mugged by him, a young boy who walked after me. He closed my mouth and thrown my head on the wall…

THANKS GOD! I finally could fight back and I screamed loudly, “A Mugger..! A Mugger..!” He moved away from me, realizing that my screams have awakened the people. He run away and left the building in hurry.

I kept on screaming until the people surround me were rapidly coming. I felt so dizzy, but I was still realizing that there were some Indonesian students who stayed right in front of the happen has occurred. They helped me much. Two persons run after the mugger quickly when I pointed the way that the mugger has run and the other students were still staying with me. They asked me what was happened, what was the mugger look alike, etc. Poor me, I couldn’t easily recognize him. What I’ve remembered were he wasn’t tall enough, thin and wearing a cap. I explained shortly before I was eager to be in my friend’s house taking some rest. They let me in their house, but I decided to take a rest in my friend’s, because I don’t know them. I just can say thanks for these.

God saves me also my bag that I brought. Nothing has stolen unless my brave. I haven’t seen this situation in Egypt before about three or four years ago. I guess that the international global crises have influenced the economic and security in the whole of the countries.

To all my friends, the crime is not always occurs by a deliberateness but also by a chance. It may be took place in public or in empty area, day or night, individual or in group.

Please beware of going everywhere with or without friends. Call the emergency number you know. And if a mugger comes to you, the first thing you can do is SCREAM as you can, because all the people will recognize the SIGN.

h1

Kemandirian Ruang Gerak Mahasiswi

August 17, 2008

Suzan Dwi Selawati

Bismillahirrahmaanirrahiim..

Membincang tentang aktifitas mahasiswi Mesir, kita tidak akan terlepas dari ruang dimana mereka biasa bergerak, WIHDAH-PPMI.

WIHDAH-PPMI dalam sejarahnya ditulisakan sebagai satu-satunya organisasi di Kairo yang beranggotakan khusus mahasiswi. Meski dalam kacamata struktur organisasi WIHDAH merupakan badan otonom PPMI, namun dalam menjalankan aktifitasnya WIHDAH mempunyai hak penuh dalam mengkoordinir anggotanya.

Seiring berjalannya waktu juga bertambahnya kuantitas mahasiswi yang menempuh pendidikan di Mesir, masing-masing kelompok studi, kekeluargaan maupun afiliasi secara sendirinya merasa butuh untuk mengelompokkan lebih khusus lagi anggota putrinya. Tapi hal ini bukan berarti WIHDAH sudah tidak mempunyai fungsi lagi.

Dari narasi paragrap di atas, dapat diartikan bahwa kinerja WIHDAH akan lebih terbantu dalam mengorganisir anggotanya. Secara tidak resmi WIHDAH juga mendapat posisi sebagai induk dari kumpulan mahasiswi dari kelompok studi, kekeluargaan ataupun afiliasi tersebut. Umumnya, mereka mengatasnamakan dengan sebutan “Keputrian”.

Perbedaan antara mahasiswa putra dan putri seharusnya memang tidak layak dibicarakan lagi. Namun mari kita meneropong lebih dekat tentang bagaimana masing-masing mereka beraktifitas dalam lingkungannya, khususnya kinerja teman-teman putri.

Terbentuknya keputrian dari masing-masing kekeluargaan bukan berarti tanpa alasan. Awal mula terbentuknya keputrian-keputrian juga mempunyai kesamaan psikologis dengan pertama-tama dibentuknya WIHDAH: Optimalisasi peran mahasiswi dalam berkiprah pada miliu masisir secara global. Karena masing-masing mahasiswa ataupun mahasiswi mengemban amanah yang sama dalam merumuskan masa depan tanah air kita, Indonesia.

Tidak disangsikan lagi anggapan bahwa mahasiswi atau tepatnya perempuan pada umumnya mempunyai sifat pemalu jika berkiprah di depan khalayak ramai. Apalagi jika dihadapkan dengan makhluk berjenis laki-laki. Meski tidak semua, tapi pada kenyataannya membuktikan bahwa pada setiap forum dan diskusi umum teman-teman mahasiswi tidak banyak menunjukkan keaktifannya dalam sesi tanya jawab ataupun sekedar menambahi atau memberi saran sekalipun. Sekali lagi, pernyataan ini tidak berlaku pada semua mahasiswi. Tapi penulis dapat melihat sendiri pemandangan ini tidak hanya dalam sekali atau dua kali waktu saja.

Dengan demikian, penulis sangat setuju sekali dengan adanya ruang khusus putri dalam dinamika masisir. Wadah ini dimaksudkan agar teman-teman mahasiswi dapat mengekspresikan segala potensi yang dimiliki, tanpa ada tirai pembatas yang biasa dibahasakan dengan takut, malu, ataupun kurang percaya diri. Terlepas dari perbedaan batas ikhtilat antara perempuan dan laki-laki.

Teman-teman putri atau dalam pembahasan ini dapat kita khususkan pada kata ‘mahasiswi’, akan lebih optimal mengekspresikan potensinya pada ruang dan lingkungannya sendiri. Hal ini akan lebih memberi imbas positif secara nyata untuk dirinya sendiri dan juga mahasiswi lainnya.

Alasan-alasan inilah yang mendukung eksistensi adanya ruang khusus putri agar karya-karya mereka lebih banyak dan luas lagi. Disamping itu, hal ini juga membuktikan bahwa mahasiswi mampu berperan aktif dalam dinamika masisir secara mandiri.

Aktifitas-aktifitas mahasiswi ini dapat dilihat pada kegiatan rutin ataupun kegiatan momental setiap program yang telah direncanakan dari masing-masing keputrian tersebut. Dapat berupa kajian, kegiatan yang membutuhkan ketrampilan dan kerajinan tangan, olah raga, dan sebagainya.

Keputrian juga WIHDAH dapat dikatakan sebagai komunitas kecil karena mempunyai induk yang lebih besar lagi diatasnya dalam struktur organisasi. Namun, baik keputrian maupun WIHDAH mempunyai andil yang besar dalam dinamika masisir ini.

Dibalik setiap pahlawan besar selalu ada seorang perempuan agung. Begitulah pepatah Arab mendeskripsikan betapa perempuan mempunyai nilai penting dalam merambah kesuksesan bersama.

Wallahu a’lamu bisshowab.

h1

Catatan untuk lokakarya (yang belum selesai dan tersusun)

April 13, 2008

Masisir hari-hari ini didatangkan ‘para dokter’ dari tanah air. Beliau-beliau ini adalah beberapa ahli negara dan pakar pendidikan. Kabarnya, lokakarya ini membahas tentang prestasi masisir. Terlepas meningkat atau menurun, namun faktor kuantitas masisir juga sedikit-banyak mempengaruhi prosentase standar neraca prestasi masisir dengan tidak menafikan faktor-fator penting lainnya (sistem pendidikan al Azhar, biaya hidup, transportasi dan sisi psikologi pribadi masing-masing mahasiswa)

Kurun tahun 2000-2003, jumlah pelajar Indonesia di Mesir masih pada rata-rata 2500 – 3000 pelajar. Tahun ajaran 2004-2005 jumlah calon mahasiswa al Azhar mencapai 1000 orang lebih, dan kian meningkat hingga kini jumlah masisir sudah di angka 5083. Jumlah ini tentu saja jumlah yang tidak sedikit dilihat dari sudut pandang keberadaan kita di negeri orang lain. Seolah terlahir peranakan negara Indonesia di Mesir. Dengan komunitas yang majemuk perlahan mengarahkan pada beberapa budaya dan trend tertentu.

Tidak dapat dipungkiri bahwa sistem perkuliahan di al Azhar membutuhkan jiwa-jiwa pembelajar yang tangguh. Kurun waktu kuliah yang sudah ditentukan dari pihak al Azhar juga menambah image masyarakat Indonesia bahwa masisir tidak dapat menempuh studi lebih cepat seperti teman-teman perkuliahan di Indonesia yang merasakan sistem kredit semester.

Tidak hanya itu, sistem pengajaran al Azhar yang pada umumnya disampaikan dalam bentuk kuliah umum dengan jumlah mahasiswanya yang padat membuat mereka hanya bisa menerima saja tanpa ada perhatian khusus ataupun kesempatan berdialog dengan para dosen yang bersangkutan. Hal ini tentu saja berpengaruh besar pada mahasiswa terlebih masisir untuk dapat memahami mata kuliah secara komprehensif. Tidak jarang dari masisir akhirnya memilih untuk belajar sendiri ataupun berkelompok dirumah melalui bimbingan dari para seniornya.

Selain itu, materi al Qur’an yang memang menjadi ciri khas al Azhar dan merupakan nilai plus bagi mahasiswanya merupakan mata kuliah kategori berat. Terbukti dengan banyaknya para mahasiswa yang tidak meluluskan mata kuliah ini.

Untuk bisa belajar di luar negeri, Indonesia menyediakan beasiswa dengan memberikan beberapa test atau syarat-syarat tertentu, begitu pula studi di Mesir. Untuk studi di al Azhar, ada beasiswa berupa tempat tinggal dan beberapa uang saku. Beasiswa ini diberikan pihak al Azhar melalui bantuan Indonesia dalam menguji kualitas calon pelajar yang hendak mengenyam pendidikan di al Azhar. Secara tidak langsung, Indonesia sangat banyak terbantu oleh pihak al Azhar dalam membiayai putra-putri bangsanya dalam melanjutkan studi.

Sejauh ini, Mesir adalah negara sasaran untuk studi yang banyak diminati oleh masyarakat kita. Pada umumnya, tujuan belajar di Mesir karena mereka ingin mengkaji lebih dalam tentang agama Islam begitu juga tentang sejarah dan budayanya. Disamping itu, biaya hidup di Mesir yang relatif murah dibandingkan dengan negara asing lainnya menarik para orang tua wali untuk mengirim putra-putrinya untuk belajar di al Azhar. Meski tanpa beasiswa dari negara maupun pihak al Azhar.

Lambat laun, dengan adanya pembludakan jumlah calon mahasiswa yang tidak sebanding dengan jumlah mahasiswa yang lulus, Kedutaan Indonesia di Mesir mengambil kebijaksanaan yang dilematis. Pemerintah hanya mengizinkan mereka yang telah berhasil melewati ujian negara atau melalui jalur ujian dari kedutaan Mesir di Indonesia untuk bisa mendapatkan visa studi di Mesir. Hal ini membawa dilema bagi mereka yang benar-benar ingin mengkaji agama yang tanpa menganggap penting ijazah.

Prosentase yang besar dari pelajar Indonesia di Mesir seharusnya menarik hati pemerintah Indonesia untuk lebih memperhatikan kelangsungan hidup masisir untuk menyelesaikan studi. Sekiranya bantuan dana untuk masyarakat Indonesia di luar negeri (Mesir) dilayangkan bagi pelajar khususnya pada tingkat universitas dengan menambah prosentase dana bantuan tersebut untuk menunjang biaya hidup mereka.

Bantuan pemerintah tadak harus berupa materi secara langsung. Hal tersebut dapat dimisalkan dengan tidak dibenarkannya part time untuk masisir seperti negara-negara asing lainnya yang memberi izin pada mahasiswa asing agar bisa bekerja sampingan untuk menyokong biaya hidup, membuat masisir sangat mengharapkan jatah TEMUS di musim haji. Dalam hal ini, hendaknya pemerintah menambah prosentase jatah TEMUS untuk masisir dengan melihat jumlah mahasiswa pada masing-masing negara asing.

Dukungan pemerintah melalui materi yang juga tidak secara langsung dapat direalisasikan dengan bantuan berupa perhatian pemerintah dalam mendukung intelektualitas masisir dengan mengirim masisir ke beberapa seminar, pelatihan dan semacamnya pada tataran internasional. Dengan begitu masisir dapat menambah wawasan intelektual secara update dan komparatif juga pengalaman universal yang dirasakan pula oleh mahasiswa asing lainnya.

Biaya hidup di Mesir
Biaya hidup di Mesir dapat dikategorikan relatif murah dibanding negara luar negeri lainnya. Namun, paut nominal mata uang Indonesia dengan negara ini tetap menjadi perhitungan yang berarti.Apalagi akhir-akhir ini biaya hidup di Mesir secara keseluruhan meningkat membumbung tinggi. Perekonomian Mesir sekarang ini sedang tidak stabil. Hal ini berpengaruh besar pada kesejahteraan penduduknya juga keadaan sosial masyarakat di tiap sudut kota. Tak jarang kriminalitas kerap terjadi yang juga banyak menimpa korban masisir.

Dapat digeneralisir bahwa tingkat ekonomi masisir berada di kurva cekung dan garis datar.

h1

al Azhar’s Student; The Agent of Change in Society

March 19, 2008

al Azhar’s Student; The Agent of Change in Society

Suzan Dwi Selawati   

Bismilah. It’s a proudly thing to be one of a foreign Student, especially al Azhar’s. al Azhar is the earliest university in the world and had thousands of students from different countries, even some people keep comparing that European University is the earliest, but we’re never forget that al Azhar had taught a lot of students long ago before they formed a ‘university’.  

Now, we are the part of them who are studying there in ancient university, al Azhar. We shouldn’t be proud of al Azhar by its existence, but we should prove that we exist there and had learnt a great deal of literature to be transferred. 

Here, in Egypt that al Azhar has been built, we’re not just learning every subject from the university. But more than that, with Egyptian culture we’ve just ‘melted’, living and together in every doing in the part of our lives.  And the important thing that we should know is not every custom has a positive habit. For this reason, it’s better to us to ‘lick a good taste of Egyptian habits.  

It’s said that Egypt is a mother of the world, a mother of civilization, art, and also science. Lots of science has been discovered here in early life. And most of the well-known scientists whose belong to this country whose owns thousands of towers, have proved that. In other words, al Azhar, one of the universities of Egypt has a big role to produce whom are concerning to knowledge especially knowledge of religion (ulama’).  

Besides learning religion theory, we are automatically learning Arabic language at a time from the university. Because all the professors using Arabic in teaching. Outside university, we live in the wonders of Egypt, speak and exchange information with other people using Arabic language in this country.  

Arabic is not just an Arabian language. It’s also al Qur’an language, the holy book of our religion. To put it simply, we’ll know the meaning of our Holy Book if we learn Arabic language, and then we can translate Arabic to our language. How lucky we are! Learn something, get another lot of things! 

At the same time as a part of that luck, we have to thank God by studying hard and use this sparkling opportunities. As al Azhar’s students who live in Egypt, it’s good for us to ‘charge’ our knowledge as much as we can in order to grant it to our country, Indonesia. 

We are the next generation in our country. Indonesia has been waiting for its youth to take part in some activities in society in order to fulfill a role for some reason why we create a state named Indonesia and defend it. And it’s our duty as an Indonesian youth. 

The youth is the period of time of life when we are young or the quality of being young. As a matter of fact, all the students also al Azhar’s are included there. The youth’s soul is pure and hasn’t contaminated yet with any individual tendencies. Both The purity idealism and the bravery are obligated to bring issues to the atmosphere then push the situation to a better condition. 

But the youth of today has different role to represent our liberty. In the past, Indonesian youth were fighting a war of independence against a powerful enemy. But now, as an Indonesian youth, we have to fight some problems named crime, poverty, stupidity, amoral behavior and other problems that we face today. 

As al Azhar’s students and also Indonesian youth, without a shred of doubt we’re required to play our role in society to fight the common problems that we’ve been mentioned above. Our nation has been ‘sick’ for so long and need a ‘doctor’ to treat and heal it. For that, we will start to play our role in society as much as we can. At least we’ll begin to help and solve the problems in our small sphere around us. 

Most of people think that the graduate of al Azhar University is domineering in knowledge of religion only. Then they spread a rumor that al Azhar’s students will work in boarding school as a teacher (ustadz). In our religion, it’s not just an occupation to be an ustadz, teach or inform to whom aren’t being know about Islam. It’s also a duty of life. We are surely capable to inform about our religion because we have learnt it before, in our earlier school until we are attending to here in al Azhar University. Thank God for many times we were born in Islamic environment and have learnt Islam from our childhood. Being Moslem inherited from our ancestor.  

We should proud with that inheritance (being Moslem) and the epithet (being ustad), by whatever we will to be, but the important thing that we are the agent of change in our society. It’s no wonder that we will be writers, critics, senators, congressmen, entrepreneurs and other occupations without missing our ‘label’. Every doing that we grant to our society is referring to shari’ah Islam. We’ll prove that both al Azhar and Egypt were educating the best thing that we’ve studied. And we’ll transfer our knowledge to our society as an agent of change, to change situation to a good condition. Every little thing that we serve to our society will show Islamic convention. Wallahu a’lamu bisshowaab! 

h1

Home Industri dan Koperasi; Mutualisme Dua Kegiatan Ekonomi Sebagai Langkah Awal Untuk Mengentaskan Kemiskinan

August 18, 2007

Suzan Dwi Selawati 

Prolog

Bismilah. Tidak ada yang memungkiri bahwasanya Indonesia adalah  Negara kaya dengan sumber daya alamnya. Negara kepulauan dengan kekayaan alam yang berlimpah. Lebih dari itu, kemajemukan suku dengan adat istiadat dan berbagai khas yang beraneka ragam memberi inspirasi kita dalam mengembangkan kreatifitas.  

 Terlepas dari keoptimisan Lee Kuan Yew, mantan perdana menteri Singapura bahwa dalam kurun waktu yang tidak lama, pertumbuhan ekonomi Indonesia akan membaik dan diramalkan akan menyamai Vietnam yang melaju di atas 9%.[1] Namun, hingga saat ini tidak sedikit kita temukan orang miskin yang terdaftar dalam data kependudukan pemerintah. Dan masih banyak lagi orang yang tersebar di penjuru ibukota sebagai korban urbanisasi, teriming-imingi janji kehidupan lebih layak yang belum tentu pasti. 

Tidak hanya Indonesia, hampir seluruh Negara di dunia memiliki permasalahan yang sama dalam bidang kependudukan dan ekonomi. Sebut saja permasalahan pengangguran. Indonesia tidak lebih buruk keadaannya dengan Negara-negara miskin dan sedang berkembang lainnya. Meski  banyak juga perusahaan Indonesia yang berupaya memberhentikan hak kerja karyawannya untuk mengimbangi siklus produksi. 

Di luar itu semua, masih ada hal menjanjikan yang dapat kita harapkan dari salah satu kegiatan ekonomi yang berlabel ‘Home Industri’ untuk menanggulangi beberapa permasalahan kependudukan dan ekonomi Negara. Kegiatan ini akan lebih berkembang jika pemerintah juga mendukung dan membantu dalam bentuk modal awal yang dibutuhkan Home Industri serta memberi fasilitas, sarana dan prasarana dalam pengembangannya. Koperasi Pemerintah misalnya. Campur tangan Koperasi sangat memberi manfaat dalam pengembangan perekonomian di Indonesia. 

Dialog

Pengertian Home Industri

Secara harfiah, Home berarti rumah, tempat tinggal, ataupun kampung halaman. Sedang Industri, dalam Kamus Ilmiah Populer yang diterbitkan oleh ARKOLA – Surabaya dapat diartikan sebagai kerajinan, usaha produk barang dan ataupun perusahaan. Singkatnya, Home Industri adalah rumah usaha produk barang atau juga perusahaan kecil.  

Dikatakan sebagai perusahaan kecil karena jenis kegiatan ekonomi ini dipusatkan di rumah. Pengertian usaha kecil secara jelas tercantum dalam UU No. 9 Tahun 1995, yang menyebutkan bahwa usaha kecil adalah usaha dengan kekayaan bersih paling banyak Rp200 juta (tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha) dengan hasil penjualan tahunan paling banyak Rp1.000.000.000. Kriteria lainnya dalam UU No 9 Tahun 1995 adalah: milik WNI, berdiri sendiri, berafiliasi langsung atau tidak langsung dengan usaha menengah atau besar dan berbentuk badan usaha perorangan, baik berbadan hukum maupun tidak. 

Jika terdaftar dalam Dinas Perdagangan Kabupaten/kota permohonan izin ke pemerintah untuk menjalankan usaha, Home Industri termasuk dalam kategori peraturan Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP) Putih, [2] yaitu perusahaan kecil yang dengan kekayaan kurang dari 200 juta. 

Home Industri juga dapat berarti industri rumah tangga, karena termasuk dalam kategori usaha kecil yang dikelola keluarga. 

 Pelaku Home Industri

Pada umumnya, pelaku kegiatan ekonomi yang berbasis di rumah ini adalah keluarga itu sendiri ataupun salah satu dari anggota keluarga yang berdomisili di tempat tinggalnya itu dengan mengajak beberapa orang di sekitarnya sebagai karyawannya. Meskipun dalam skala yang tidak terlalu besar, namun kegiatan ekonomi ini secara tidak langsung membuka lapangan pekerjaan untuk sanak saudara ataupun tetangga di kampung halamannya. Dengan begitu, usaha perusahaan kecil ini otomatis dapat membantu program pemerintah dalam upaya mengurangi angka pengangguran. Lagi, jumlah penduduk miskinpun akan berangsur menurun. 

Pusat Kegiatan Home Industri

Sebagaimana nama kegiatan ekonomi ini, Home Industri pada umumnya memusatkan kegiatan di sebuah rumah keluarga tertentu dan biasanya para karyawan berdomisili di tempat yang tak jauh dari rumah produksi tersebut. Karena secara geografis dan psikologis hubungan mereka sangat dekat (pemilik usaha dan karyawan), memungkinkan untuk menjalin komunikasi sangat mudah. Dari kemudahan dalam berkomunikasi ini diharapkan dapat memicu etos kerja yang tinggi. Karena masing-masing merasa bahwa kegiatan ekonomi ini adalah milik keluarga, kerabat dan juga warga sekitar. Merupakan tanggung jawab bersama dalam upaya meningkatkan perusahaan mereka.  

Home Industri sebagai Alternatif Penghasilan bagi Keluarga

Bertambahnya jumlah keluarga tentu saja akan menambah jumlah kebutuhan dalam memenuhi keperluan anggota keluarga itu sendiri semakin meningkat. Kebutuhan keluarga ini akan terasa ringan terpenuhi jika ada usaha yang mendatangkan income atau penghasilan keluarga untuk menutupi kebutuhan tersebut.  Home Industri yang pada umumnya berawal dari usaha keluarga yang turun menurun dan pada akhirnya meluas ini secara otomatis dapat bermanfaat menjadi mata pencaharian penduduk kampung di sekitarnya. Kegiatan ekonomi ini biasanya tidak begitu menyita waktu, sehingga memungkinkan pelaku usaha membagi waktunya untuk keluarga dan pekerjaan tetap yang diembannya. 

Usaha Mikro yang Berpeluang untuk Mengurangi Angka Kemiskinan

Usaha mikro juga sering diidentikkan dengan industri rumah tangga karena sebagian besar kegiatan dilakukan di rumah, menggunakan teknologi sederhana atau tradisional, mempekerjakan anggota keluarga juga warga sekitar berorientasi pada pasar lokal. Kegiatan usaha seperti ini banyak ditemukan di negara-negara berkembang dan berperan cukup besar dalam menciptakan lapangan pekerjaan dan pengentasan kemiskinan. Meski awalnya berorientasi pada usaha lokal, tidak jarang usaha jenis ini yang pada akhirnya mengepakkan sayapnya hingga ke luar kota atau bahkan ke manca negara. 

Koperasi

Koperasi adalah kerjasama; organisasi ekonomi rakyat yang berwatak sosial, beranggotakan orang-orang atau badan hukum yang merupakan suatu susunan ekonomi sebagai usaha bersama yang berazaz kekeluargaan.[3]  

Fungsi Koperasi[4] 

Menurut Undang-undang No. 25 tahun 1992 Pasal 4 dijelaskan bahwa fungsi dan peran koperasi sebagai berikut:

-Membangun dan mengembangkan potensi dan kemampuan ekonomi anggota pada khususnya dan masyarakat pada umumnya untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi dan sosialnya

 -Berperan serta secara aktif dalam upaya mempertinggi kualitas kehidupan manusia dan masyarakat -Memperkokoh perekonomian rakyat sebagai dasar kekuatan dan ketahanan perekonomian nasional dengan koperasi sebagai soko-gurunya

-Berusaha untuk mewujudkan dan mengembangkan perekonomian nasional, yang merupakan usaha bersama berdasarkan atas asas kekeluargaan dan demokrasi ekonomi 

Peran Koperasi untuk Home Industri

Seperti halnya ide Microcredit yang diusung Muhammad Yunus, Koperasi juga memiliki makna yang tidak jauh dari Grameencredit yang diprakarsainya. Istilah Microcredit belum muncul hingga sekitar tahun 70-an. Namun sekarang Microcredit menjadi kata yang tidak asing lagi bagi para praktisi pemerintah. Tidak ada lagi yang akan kaget jika seseorang menggunakan kata “microcredit”[5] yang dimaksudkan sebagai pinjaman pertanian atau pinjaman desa, juga pinjaman koperasi  dari peminjam pada suatu lembaga peminjaman modal (Bank ataupun Koperasi). 

Di Indonesia, usaha mikro mulai mendapat perhatian besar ketika mereka mampu bertahan bahkan berperan sebagai “katup pengaman”[6] ketika terjadi krisis ekonomi. Perhatian dari berbagai pihak ini diantaranya terlihat dari meningkatnya jumlah kredit yang disalurkan kepada usaha mikro dari tahun ke tahun. 

Pada tahun 2002 jumlah kredit yang disalurkan dunia perbankan kepada Usaha Kecil Menengah (UKM) mencapai Rp30 triliun, dan untuk tahun 2003 sebesar Rp40 triliun. Departemen Keuangan melalui BI juga merencanakan akan menyalurkan kredit kepada usaha mikro dan kecil (KUMK) sebesar Rp3,1 triliun, tetapi pelaksanaannya masih terhambat karena beberapa alasan, antara lain: masalah teknis, prosedur penyaluran dana. [7] 

 Epilog

Sebagai penulis, saya akan mencoba menuangkan ide dan solusi secara sederhana sesuai dengan data-data yang terkumpul. Dengan melihat beberapa kenyataan yang ada di daerah asal saya, bahwa usaha yang dikembangkan Home Industri dengan kerjasama pemerintah Kabupaten  sangat berpeluang positif untuk pertumbuhan ekonomi nasional. Koperasi juga berperan aktif sebagaimana fungsinya yang mempunyai tujuan untuk menyejahterakan anggota. 

Dua kegiatan ekonomi ini (Home Industri dan Koperasi) mempunyai hubungan timbal balik yang sama-sama menguntungkan dan berpengaruh penting pada taraf ekonomi nasional. Sebagai industri rumah tangga, Home Industri tidak hanya sekedar mampu memberi tambahan penghasilan keluarga. Akan tetapi juga menciptakan lapangan pekerjaan untuk orang-orang di sekitarnya. Lebih jauh lagi, usaha mikro ini diharapkan dapat mengurangi angka pengangguran dan kemiskinan. Sehingga terciptalah pertumbuhan ekonomi yang kondusif di negara kita yang tercinta ini, Indonesia. Wallahu a’lamu bisshowab. 

Untuk Indonesiaku,

Sekali Merdeka Tetap Merdeka!

Dirgahayu RI yang ke-62.


[1] http://www.mediaindonesia.com, 25 Juli 2007

[2] Meneropong Perdaganan Internasional; Prosedur dan Implementasi oleh  Harda Wahana, Atase Perdagangan Indonesia KBRI Kairo. Makalah Pelatihan Perdagangan yang diadakan Forum Studi Syari’ah wal Qanun, 30 Juli 2007 di Griya Jawa Tengah, Kairo.

[3] Kamus Ilmiah Polpuler, Pius A Partanto dan M. Dahlan Al Barry , Penerbit Arkeola, Surabaya.

[4] http://id.wikipedia.org/wiki/Koperasi#Fungsi_dan_Peran_Koperasi

[5] http://www.grameen-info.org

[6] http://www.smeru.or.id/newslet/2004/ed10/200410data.htm

[7] Berbelitnya Pengucuran Kredit Usaha Kecil, Media Indonesia Edisi Cetak 26 Mei 2003

h1

Made in China (Penjajahan Budaya Melalui Perniagaan)

August 7, 2007

MisSane

Siapa yang tak kenal China, negara ras putih-sipit yang merupakan ciri khas dari ras Mongoloid ini merupakan negara penguasa dunia. Di negara manapun anda berada, pasti anda akan menjumpai Kampung China(China Town) atau yang biasa kita sebut Pecinan. Dengan nuansa merah menyala, pantas kiranya warna itu sesuai dengan semangat yang mereka miliki dalam meniti usaha.

Sebagian orang bilang; Pekerjaan adalah agama mereka. Sebuah keyakinan yang menjadi ruh dalam menjalankan rutinitas keseharian. Tak heran jika hampir seluruh waktu dan tenaga mereka hanya untuk satu kata ‘Bekerja’. Seruan Deng Xiaoping –Pembesar China– “Menjadi kaya itu mulia,” mengubah wajah Cina secara dramatis. Pada perayaan tahun baru, masyarakat China tidak lupa memberi salam Xin nian kuaile (Selamat tahun baru), dengan dilanjutkan kalimat do’a gong xi fa cai (Semoga tambah kaya). Hingga kini, banyak kita menemukan perantau-perantau China di sekeliling kita. China mampu menjajah dunia melalui perniagaan.

Penguasaan dunia usaha oleh cukong-cukong ini juga telah menyelinap hingga ke pasar lokal. Adanya Kampung China atau Pecinan yang mampu membaur dengan berbagai suku dan ras bangsa di seluruh dunia ini perlahan memperkenalkan budaya China secara tidak langsung. Mulai dari Food hingga Fashion.

Bila kita berwisata ke mancanegara, tidak sulit bagi kita untuk mencari restauran China. Selera masakan China mampu mewakili citarasa lidah masyarakat seluruh dunia. Lumpia misalnya, Dim Sum (makanan pembuka atau snack) khas China ini telah banyak diterjemahkan ke seluruh penjuru lidah masyarakat dunia. Jajanan Lumpia dapat kita jumpai sebagai Spring Roll dalam menu restaurant internasional, lebih dekat lagi jika disepadankan dengan Risoles yang juga termasuk dalam daftar menu snack masakan Eropa.

Begitu juga Fashion. Sutera China merupakan kain mewah yang digandrungi para wanita. Model pakaian Shanghai pun tidak pernah kandas dari lirikan para designer busana, dari aneka ragam kancing baju, bentuk kerah leher hingga beragam jenis resleting cantik lainnya.

Tidak cukup itu saja. Factory China juga banyak memproduksi merchandise yang tak kalah beragamnya dibanding negara-negara lainnya. Meski tidak bertumpu pada industri berat, namun factory China secara kreatif mampu mencipatakan barang-barang produksi yang sepele dan kenyataannya justru banyak dibutuhkan dalam keseharian kita.

Pemimpin Besar Mao Zedong memprakarsai gerakan “lompatan Jauh ke Depan” pada tahun 1958 untuk memberi warna khusus bagi komunisme Cina. Berbeda dengan Soviet yang bertumpu pada industri berat, Mao menggalakkan pertanian yang ditunjang industri kecil di pedesaan. “Kalau Stalin hanya punya satu kaki, industri berat, kita punya dua kaki, yakni pertanian dan industri kecil,” ucap Mao.

Perniagaan orang-orang China sudah masyhur sejak dulu kala. Perantauan mereka melalui pelayaran tidak pernah membawa tangan kosong. Keramik dan sutera contohnya, merupakan barang-barang dagangan bangsa China pertama yang tak terlupakan hingga kini.

 Disini saya akan mencoba bercerita tentang kenyataan budaya China yang ‘menjajah’ negara lainnya melalui perniagaan. Saya mengambil sampel Mesir sebagai contoh sesuai dengan pengalaman dan pengamatan saya pada lingkungan sekitar dimana saya tinggal. Saya hanya akan membaginya menjadi dua bagian, produksi China dan masa depan barang produksi China.

Produksi China
Biaya murah dengan mutu yang rendah adalah ‘trade mark’ yang harus dibayar mahal untuk pengusaha komiditi unggul di China.

Salah satu hobi saya adalah berbelanja. Hunting pernak-pernik cantik juga merchandise unik lainnya untuk menambah keindahan dekorasi ruangan tidak pernah terlewatkan saat saya berbelanja. Tapi yang menarik perhatian adalah saat mengetahui hampir semua barang yang ada dihadapan saya berlabel China.

Awalnya, saya sangat anti terhadap barang-barang buatan China. Terlebih saat semua mempunyai anggapan yang sama; Kwalitas barang produksi China
tidak memberi jaminan. Pada umumnya, merchandise China sangat menarik penampilan luarnya, tapi saya sangat tau betul berapa lama garansi yang kita dapat. Sangat tidak sebanding dengan performance yang iproduksinya.

Masuknya komoditi produksi China yang membludak di pasaran seolah tak dapat terbendung. China tidak hanya mampu ‘membajak’ barang-barang merk dunia, tapi juga ‘membajak’ produksi khas barang yang bernuansa etnik dalam suatu negara.

Teman saya, misalnya. Ketertarikannya terhadap merchandise cantik dan unik menjelma menjadi candu dalam kekerapan jadwal belanja. Saat ingin mengirimkan oleh-oleh khas Mesir, dia -teman saya- membeli berbagai macam merchandise etnik Mesir, dari gantungan kunci, sandal, juga cangkir, kaos dan pakaian kebesaran Mesir. Ironisnya, setelah diteliti barang-barang itu semuanya berlabel China!

Tidak hanya itu. Membaurnya budaya China di Mesir atau secara tidak langsung bisa dikatakan sebagai ‘penjajahan’ budaya dalam bidang perniagaan sedikit demi sedikit bergerak pesat.

Ketika saya menyusuri pusat perbelanjaan Attaba di bulan Ramadhan. Saya banyak menjumpai lampu Venus. Budaya lampu Venus telah mengakar pada masyarakat Mesir. China secara kreatif mampu memproduksi lampu Venus yang sama persis dengan lampu Venus yang diproduksi oleh Mesir, bahkan memasukkan lampion-lampion khas China yang sengaja dipadukan sesuai dengan lampu Venus yang bertema Ramadhan.

Zaman yang menuntut kita untuk mengkonsumsi sesuatu yang serba instan tidak dapat terelakkan lagi. Mungkin fenomena ini merupakan salah satu hal yang mempengaruhi para produsen China; Memproduksi barang sebanyak-banyaknya dalam jangka waktu yang singkat, tanpa memperhatikan kwalitas dan mutu barang produksi tersebut. Dilain sisi, kerugian yang menimpa para produsen China pada umumnya adalah hilangnya kepercayaan para konsumen terhadap barang produksi China, baik konsumen dalam ataupun luar negeri.

 Para pengamat mengatakan banyak perusahaan Cina, yang masih menyesuaikan diri dengan dorongan pemerintah untuk menumbuhkan ekonomi berorientasi pasar, belum sadar benar dengan kepentingan memiliki merk yang terkenal secara internasional.

 Dennis Zhang, seorang peneliti di Beijing mengatakan bahwa Membangun merk seperti merk-merk ternama dunia itu memerlukan banyak sumber daya, seperti waktu, keahlian dan dana. Bahkan jika mereka memiliki sumber daya pun, mereka kemungkinnan tidak sabar untuk mengejar sukses dalam waktu lama. Kenyataan ini mampu memberi bukti bahwa seruan Deng Xiaoping “Menjadi kaya itu mulia,” telah mendarah daging.

Kenyataan pangsa pasar mampu membalikkan persepsi kita terhadap barang produksi China. Setidaknya, China mampu memberi alternatif kepada konsumen. Meski banyak kita jumpai barang-barang ‘bajakan’ buatan
China terhadap merk-merk ternama dunia, namun tidak sedikit barang produksi China lainnya yang memenuhi kebutuhan keseharian kita yang justru tidak diproduksi negara lainnya.

Kegeraman negara Eropa terhadap barang ‘bajakan’ China pernah sempat diekspresikan dengan pembakaran sejumlah komoditi merk ternama dunia terutama merk-merk ‘Made in Paris’ dan ‘Made in Italy.’ 

Ternyata ancaman ini tidak membuat kiyut nyali para produsen China. Rating barang produksi China tidak juga menyusut. Sebaliknya, disamping tetap menjaga angka produksi, China juga mengirim delegasi untuk memperbaiki hubungan ekonomi-perdagangan antar negara lainnya. Terlebih saat pertama diumumkan adanya perdagangan bebas, China membanjiri pasaran di seluruh dunia.

Masa Depan Barang Produksi China
Seorang teman saya bertanya pada penjual lampu neon yang ternyata berlabel China; Hampir semua barang yang dijual di Mesir adalah produksi luar negeri, khususnya China. Lalu Mesir dapat memproduksi apa?

Begitu santai penjual itu menjawab; Kekayaan Mesir adalah Siyahah, untuk memproduksi barang yang bermutu lebih bagus dari China akan memerlukan waktu dan juga biaya yang mahal. Sedang kita membutuhkan barang instan yang mudah terjangkau dari segi finansial.

Fenomena ini menunjukkan bahwa barang produksi China mempunyai mutu rendah tapi mampu memberi alternatif kepada konsumen. Sebaliknya, secara tidak sadar negara-negara yang dibanjiri komoditi China sangat permisif atas ‘penjajahan’ China melalui perniagaan. Semangat gigih yang dimiliki produsen China untuk terus memproduksi barang ‘instan’ berangsur pesat dan menandingi negara lain.

Saya bukanlah pakar ekonomi, politik, juga budaya. Perkiraan ke depan saya tentang China juga boleh jadi salah. Tapi dengan melihat sekitar, mendorong intuisi saya untuk mengatakan bahwa kegigihan China dalam meniti usaha mampu mengembalikan kredibilitas dalam bidang perniagaan yang sedang merambah naik dalam pasaran internasional. Tidak menjadi hal yang mustahil jika perlahan pengakuan barang produksi China mampu bersanding dengan barang produksi Jepang, negara-negara Eropa dan negara maju lainnya. Wallahu a’lamu bi showab.

Bawabah Taltah,

10 Oktober 2005

Untuk Ririn dan teman serumahnya;

Terimakasih atas pinjaman komputer dan segala servisnya.

h1

Remaja Jangan Merem Aja!

August 5, 2007

MisSane TalenTisT

Sebut saja namanya Rudi. Seorang mahasiswa single yang sedang menempuh pendidikan di al Azhar Kairo. Laiknya mahasiswa pada umumnya, Rudi hidup mandiri dan bebas mengatur pola hidupnya sehari-hari. Meski kegiatannya tidak selalu sama pada setiap harinya, namun dia berharap segi positif dari pola hidupnya adalah untuk menghindari kehidupan yang monoton dan menjemukan.
Bergadang tidaklah asing bagi Rudi sebagai mahasiswa. Karena harus menghadapi beberapa kesibukan baik yang berhubungan dengan kebutuhan pribadi maupun organisasi juga kebutuhan untuk menunjang studi. Baginya, selama hayat masih dikandung badan, tidak ada istilah berhenti berkarya. Bangun kesiangan memang terkadang dialaminya, namun tidak seberapa kerap.

Mengingatkan kita pada penyanyi dan sekaligus Raja Dangdut, Haji Rhoma Irama. Syair lagunya yang melegenda dan mampu kita hafal di luar kepala. Dalam bait lagunya terdendang “Bergadang jangan bergadang, kalau tiada artinya. Bergadang boleh saja, asal ada perlunya.” Menyimpan makna bahwa kita seharusnya mempergunakan waktu sebaik-baiknya dan tiada gunanya bagi kita melewatkan waktu begitu saja, bahkan jika sampai menyita waktu tidur kita.

Allah s.w.t. menciptakan malam hari untuk beristirahat dan siang hari-Nya untuk beraktifitas. Dapat pula direfleksikan sebagai aktifitas rohani untuk ketenangan jiwa pada malam hari kita, sedangkan siang untuk aktifitas duniawi demi mendapatkan rido Ilahi. Namun tidak menutup kemungkinan untuk mengatur pola hidup kita sesuai dengan jadwal yang sudah kita rencanakan.

Realitanya, mahasiswa di Mesir khususnya yang menempuh jenjang S1 tidak mendapatkan tugas yang menguras banyak tenaga dan waktu kita. Jika kekreatifan dalam memanfaatkan waktu untuk hidup di Mesir tidak dikembangkan, tentu saja kita mempunyai cukup banyak waktu santai yang dapat melengahkan studi kita. Kondisi ini didukung dengan sistem kuliah al Azhar yang umumnya tidak mengandalkan absensi sebagai prosentasi terbesar dalam menentukan kenaikan tingkat. Bangun pagi hari tidak menjadi tradisi. Selain tidak wajib hadir muhadloroh, kita juga tidak menemukan serabi dan jajanan pasar lainnya saat kita sekedar lari-lari pagi, laiknya kita hidup di lingkungan perkuliahan di Indonesia.

Teringat hari-hari pertama ketika saya baru datang ke negeri para nabi ini. Saya terbangun sangat awal, begitu juga dengan teman-teman saya satu pesawat. Kami berasa hidup pada dunia yang lain. Semua orang sedang tidur dengan pulasnya, dan kami sudah tidak merasakan kantuk sama sekali. Sambil mengobrol, kami menunggu pagi dan sementara perut kami menahan lapar.

Beberapa hal lain yang mempengaruhi tidak berkembangnya tradisi bangun pagi bagi Masisir dapat kita temui di sekitar tempat kita tinggal. Pasar dan toko-toko misalnya, baru memulai kegiatan jual–beli kira-kira jam sembilan pagi atau bahkan satu jam setelahnya. Instansi di Mesir, baik pemerintah maupun swasta juga mempunyai hal yang sama. Begitu juga dengan lembaga pendidikannya. Tapi berbalik seratus delapan puluh derajat dengan apa yang terjadi di negara kita Indonesia. Boleh jadi kita terbiasa sarapan pagi yang menjadi kebiasaan kita di Indonesia. Seperti contoh di atas, hanya sekedar serabi atau jajanan pasar lainnya yang mampu memotivasi kita untuk bangun di pagi hari (karena jajanan ini jarang kita temukan jika kita bangun kesiangan). Juga instansi dan lembaga pendidikan yang memulai jam kerja mereka minimalnya pukul tujuh pagi, bahkan boleh jadi lebih awal satu jam sebelumnya. Meski demikian, tidak semua instansi Mesir juga lembaga pendidikannya memiliki keseragaman pada jam kerja mereka.

Kehidupan malam di Mesir, khususnya di Kairo laiknya kehidupan kota metropolitan lainnya. Bahkan jika musim panas tiba, kita hanya mempunyai beberapa jam saja untuk dapat tidur di malam hari. Tidak heran jika pada umumnya masyarakat Mesir juga Masisir menambah jam tidurnya setelah habis waktu subuh.

Bumi berevolusi pada matahari membagi siang-malam dan perbedaan jam dunia. Mesir misalnya, berpaut empat jam dengan Indonesia pada musim panas dan lima jam pada musim dingin. Berlaku juga pada perbedaan durasi siang dan malam. Selanjutnya tentu saja akan berpengaruh  pada perbedaan pola hidup masyarakat dunia. Saat masyarakat di Indonesia tengah asyik bekerja, masyarakat di Mesir masih lelap dalam tidur mereka. Karena matahari di Indonesia lebih awal terbit daripada matahari di Mesir.

Pengalamaan menarik saat beberapa kali saya pulang ke Indonesia. Meski nampaknya kita hanya duduk santai di atas kursi pesawat, namun kelelahan lambat laun akan tersebar merata pada tubuh kita. Karena perjalanan dari Barat menuju ke Timur membutuhkan kesiagaan tubuh. Kita seolah kehilangan beberapa jam dan terpaksa harus mengejar ketertinggalan. Tubuh kita akan mengalami peristiwa kaget. Anda pasti pernah mendengar istilah jet-lag, dan mungkin itu yang terjadi pada saya saat itu. Karena saya mengalami waktu siang yang panjang. Badan saya berasa pegal-pegal dan saya mengalami insomnia pada malam harinya. Tapi perubahan tidak begitu mencolok saat saya kembali ke Mesir dari Indonesia. Seolah saya dapat tambahan waktu beberapa jam, saya berasa senang dan tubuh saya bisa sejenak bersantai.

Artinya, semua yang kita jalani sedikit-banyak bergantung pada kebiasaan dan pola hidup masyarakat di sekitar kita. Jika kita keluar dari kebiasaan ini, akan menyebabkan gejala sosial yang ‘sakit’ dan berkepanjangan. Terlepas dari kebiasaan itu positif ataupun negatif.
Pepatah menyebutkan, “Dalamnya laut dapat kita ketahui isinya, tapi dalamnya hati tak seorangpun tau.” Begitu juga dengan kita, kita sendiri yang mengetahui apa yang dibutuhkan diri. Setiap kita memiliki jam biologis atau mekanisme pengaturan waktu internal dalam tubuh kita yang bekerja secara otomatis. Jam ini sudah terprogram secara genetis dan menentukan jam istirahat kita, kapan waktunya kita bangun dan kapan kita tidur.

Jika kita perhatikan bayi, biasanya dia bangun pagi sekali. Orang tuanya seringkali kerepotan disebabkan olehnya. Saat dia tumbuh besar dan jam biologisnya semakin bergeser ke belakang dan pada usia remaja, pergerseran ini mencapai titiknya yang terakhir. Namun, mulai usia 20 tahun jam itu kembali berangsur-angsur bergerak ke depan lagi.

Dengan kata lain, para remaja dapat diibaratkan seperti burung hantu atau kelelawar yang memulai kehidupan di malam hari. Namun kaidah menyebutkan bahwa: Jika hidup melawan jam biologis, misalnya karena setiap harinya bangun jam enam pagi karena wekernya berdering, maka badan akan mengalami stress. Till Roenneberg, professor di Institut Psikologi Kedokteran Universitas München. Ia peneliti soal jam biologis, menyebut gejala tersebut sebagai “social jetlag“.

Namun dari kesemua ini tidak menjadi harga mati. Jauh dari penglihatan sebelah mata kita, Mesir menyimpan berbagai misteri ilmu yang belum tersibak dalam pencarian kita sebagai mahasiswa. Ibarat gudangnya ilmu, Mesir yang juga dijuluki negeri seribu menara ini dipenuhi dengan beribu-ribu masjid yang menyajikan berbagai kajian ilmu yang mempelajari tentang agama Islam dengan berbagai seluk beluk di dalamnya. Baik ilmu al Quran maupun Hadits. Juga menerima setoran hafalan al Quran dan mengkaji ilmu tajwid. Kegiatan ini biasanya dimulai setelah sholat subuh hingga malam hari. Dan lagi-lagi dari semua ini menuntut kekreatifan kita dalam mencari info dan ‘pengembaraan’ ilmu, karena al Azhar tidak memberikan pelajaran tambahan selain apa yang kita dapat di bangku kuliah atau muhadloroh.

Lagi, berbagai macam bentuk kegiatan yang disuguhkan dari banyaknya organisasi Masisir baik organisasi induk (DPP-PPMI) ataupun kekeluargaan, afiliatif , almamater, ormas, dan juga organisasi lainnya. Menjadi alternatif penting bagi kita untuk mengikuti dan berperan aktif di dalamnya. Hal ini juga dapat membantu menghapus kejenuhan hidup kita yang monoton dengan berbagai kegiatan positif. Membiasakan mengikuti muhadloroh dengan mewajibkan diri untuk selalu hadir di kelas juga dapat kita jadikan motivasi untuk tidak tidur kembali di pagi hari, juga demi menunjang keberhasilan studi kita. Selain itu, salah satu kiat dari beberapa tips kesuksesan menyebutkan; Selalu memperbarui niat setiap hendak memulai mengerjakan sesuatu akan memicu motivasi dan meluluskan cita-cita kita.

Nabi juga menyebutkan dalam haditsnya, Allahumma Baarik Ummati fi Bukuuriha. Bahwasanya barokah dari Allah datang pada umat nabi Muhammad s.a.w. pada pagi hari. Dengan bangun pagi, kita dapat mempunyai cukup waktu untuk menyelesaikan hal-hal berguna yang lebih penting dan bermanfaat bagi kita. Wallahu a’lamu bi showab.

–***–
November 05, 2006

h1

Local Product Exhibition (Pameran Produksi Lokal); Agar Anak Bangsa Bangga Pada Karya Cipta Indonesia

May 6, 2007

 

MisSane TalenTisT

Melihat situasi persaingan dunia tanpa batas terhadap produktivitas, sudah semestinya kita sebagai anak bangsa Indonesia tidak hanya tinggal diam tercengang. Setidaknya kita bisa menekan angka budaya konsumtif terhadap barang-barang komiditi asing yang sudah merambah hingga ke pelosok negeri dimana kita sendiri enggan mendatangi. Di wilayah ibukota, kota propisnsi, daerah kabupaten, juga pasar-pasar pedesaan pada zaman sekarang ini tidak jarang kita temui berbagai varietas barang-barang impor dengan jangkauan harga yang mampu terbeli oleh kantong para rakyat kecil. Jika mereka saja mampu membeli, apalagi kalangan masyarakat yang mempunyai penghasilan ekonomi menengah ke atas?

Kita tidak bisa memungkiri kenyataan masuknya barang-barang impor non Indonesian made dengan harga bersaing. Meski tanpa sadar kita sering tertipu oleh performance yang menarik dari barang-barang impor tersebut dengan tidak melihat kualitasnya. Tapi kita tetap saja konsumtif terhadap aneka jenis produk yang mereka tawarkan.

Beli Gengsi atau Isi?
Secara tidak langsung, budaya konsumtif sangat berpengaruh terhadap produktivitas dan harga barang. Dalam hukum permintaan disebutkan bahwa jika harga mengalami penurunan, maka jumlah permintaan akan bertambah dan jika harga barang naik, maka jumlah permintaan akan berkurang. Begitu juga yang terjadi pada ekonomi pasar dewasa ini, semakin barang-barang non Indoneisan made kita konsumsi, semakin besar juga para importir tersebut dalam mendistribusikan barang-barang produksi luar negeri. Hal ini dikarenakan semakin membludaknya barang-barang impor dengan harga yang bersaing, sedang biaya produksi di tanah air semakin meningkat yang tentu saja berpengaruh besar pada harga barang.

Jika kita mau lebih teliti, hasil karya produksi dalam negeri juga tidak kalah saing. Kita jauh lebih mengutamakan kualitas barang dibandingkan barang-barang komiditi impor. Tapi tak jarang dari kita sering termakan gengsi untuk bisa memiliki item-item buatan luar negeri.

Ada masa yang tidak kita ketahui dimana rumah-rumah produksi lokal menciptakan barang berkualitas tinggi atas pesanan konsumen luar negeri yang nantinya akan diperdagangkan ke seluruh lorong-lorong pasar dunia, tak terkecuali Indonesia. Dan tanpa sadar, kita membayar berlipat kali untuk mendapatkan barang tersebut karena sudah tertera merek-merek ternama dunia. Biasanya mereka memesan barang-barang produksi lokal dengan perjanjian tidak mencantumkan nama dagang bahkan untuk tidak membubuhkan asal Negara buatan barang tersebut. Dengan demikian, konsumen luar negeri yang juga berlakon sebagai produsen barang tersebut secara mudah dan leluasa mematenkan nama dagang atau merek mereka. Maka, tidak heran kita mendengar keluhan beberapa konsumen Indonesia yang berbelanja di luar negeri dan kecewa setelah diketahuinya bahwa barang-barang tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah barang produksi bangsanya sendiri.

Diantara kelebihan barang-barang produksi lokal, selain berkualitas tinggi juga mempunyai sifat permanen atau lebih tahan lama. Meski tidak seluruhnya, biasanya barang-barang komiditi impor tersebut hanya bersifat ‘sekali pakai’. Karena pada umumnya masyarakat pada zaman modern lebih cenderung untuk memilih sesuatu yang bersifat instan dengan dalih agar lebih efisien.

Sifat instan yang diproduksi merk dagang luar negeri tidak terbatas pada bahan baku saja, tapi juga pada produk makanan. Karena kita memilih instan dengan tidak memperhatikan akibat yang akan kita terima nantinya. Fast food yang sudah menjamur di sekitar kita pada umumnya adalah makanan ala masyarakat modern yang secara perlahan mulai berbaur dalam gaya hidup dan pola makan kita. Disadari atau tidak, bahwasanya makanan-makanan bergengsi tersebut adalah junk food yang jika terus menerus kita konsumsi mempunyai akibat kurang baik pada kesehatan.

Upaya Bersama Dalam Mewujudkan Stabilitas Ekonomi Produksi dalam Negeri.
Mengingat semakin menjamurnya produk-produk impor yang beredar di pangsa pasar nasional, diharapkan pemerintah dan masyarakat Indonesia mampu bekerja sama dalam mewujudkan stabilitas perekonomian dalam negeri. Masuknya barang-barang produksi asing yang menawarkan berbagai komiditi, tidak hanya menambah lesu laju grafik produksi, bahkan dapat mematikan pasaran dalam negeri.

Jika arus importasi sudah tidak dapat dibendung lagi sudah sepatutnya kita wajib mengimbanginya dengan eksportasi. Dalam hal ini bantuan pemerintah sangat diperlukan partisipasinya. Setidaknya dengan memperkecil biaya pajak ekspor dan mempermudah fasilitas eksportasi. Upaya ini diharapkan bisa membantu laju pengiriman barang ke luar negeri. Kegiatan eksportasi ini mempunyai hubungan yang erat kaitannya dengan pendapatan Negara. Indonesia tidak hanya diuntungkan melalui biaya pajak, namun juga nama baik bangsa.

Disamping itu, partisipasi aktif ini tidak akan dapat berhasil jika hanya dimainkan dari pihak pemerintah saja. Pengembangan produktifitas dari rumah produksi lokal juga dinilai sangat penting sebagai pelaku utama kegiatan eksportasi ini.

Mengembangkan Budaya Kreatif Anak Bangsa
Penulis pernah mendengar kabar tentang cerita anak bangsa Jepang dan hasil karya mereka. Bahwasanya di Jepang pernah dikembangkan budaya kreatif dengan mewajibkan setiap anak untuk dapat menciptakan kreasi baru alat tulis, bolpen. Sekali di setiap bulannya. Tidak heran jika bolpen Pilot sempat melejit dan menjadi most wanted brand stationary product di Indonesia.

Dalam pengembangan budaya kreatif juga dibutuhkan kebebasan berekspresi dan berkarya, dengan batas-batas yang normatif tentunya. Indonesia juga mempunyai cerita yang tidak jauh berbeda dengan cerita anak bangsa Jepang di atas. Kekreatifan dalam bermusik misalnya. Perkembangan produksi musik di Indonesia sekarang ini seperti halnya pertumbuhan jamur di musim hujan. Hal ini juga tidak terlepas dari dukungan pemerintah dalam kebebasan bermusik hingga beberapa musisi Indonesia memiliki nama yang harum di manca Negara.

Pameran Produksi Lokal sebagai Wahana Cinta Produksi Sendiri
Sejak diberlakukannya otonomi daerah, Pemda mulai menggiatkan pengembangan potensi masing-masing daerah. Kemudian hasil karya tersebut lantaran tidak cukup untuk dinikmati untuk kalangan sendiri. Dalam hal ini, Pemda seyogyanya menyediakan sarana untuk memajang dan memamerkan hasil karya potensi daerah dan memperkenalkannya pada daerah-daerah lain di seluruh Indonesia, bahkan sampai pangsa pasar internasional. Sehingga barang komiditi Indonesia dapat dinikmati ke seluruh penjuru dunia. Dengan tetap menjaga kualitas barang dan kekreatifan kita dalam karya cipta tangan kita sendiri, diharapkan kita mampu bersaing dalam percaturan bisnis internasional. Tidak ada kebanggaan yang dapat melebihi jika bangsa lain menghargai kita karena karya cipta kita sendiri sebagai bangsa Indonesia, tidak sekedar bisa meniru apalagi bangga karena memakai merek dagang buatan luar negeri. Wallahu a’lamu bisshowab.***

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.