Archive for the ‘Live In Cairo’ Category

h1

Kerneh Baru al Azhar

April 8, 2007

MisSane 

Bagi teman-teman Indonesia, mungkin ini bukan hal baru. Salah satu identitas sebagai mahasiswa di PT (Perguruan Tinggi), ya KTM (Kartu Tanda Mahasiswa). KTM ini kalo bahasa Mesir nya adalah Karnieh, di lafadzkan Masisir (Mahasiswa Indonesia di Mesir) dengan Kerneh.  Mulai dari tiga tahun silam, tepatnya tahun ajaran 2004-2005, Universitas al Azhar Mesir membebankan biaya kuliah kepada seluruh mahasiswanya, tak terkecuali mahasiswa luar negeri seperti kami, Masisir. Meski tak seberapa -dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, yang tidak pernah dipungut biaya apapun, kecuali pembelian diktat kuliah- namun biaya kuliah ini cukup memberi suasana ‘beda’ pada dampak perubahan universitas secara perlahan. Fisik maupun nonfisik.  

Pada Perubahan Fisik, Universitas al Azhar yang konon mempunyai luas wilayah lebih dari separuh wilayah milik pemerintah dan perlahan menyempit ini, terlihat telah banyak merenovasi gedung-gedung tuanya dan juga membangun fasilitas-fasilitas baru.  Proyek Kafetaria besar dalam komplek kampus juga baru beberapa tahun dalam hitungan jari saja keberadaannya. Sebelumnya? Ya, sekedar kantin-kantin kecil yang hanya menyediakan makanan sangat ringan sekali dan soft drink. Terletak di sudut-sudut lokal yang nampak sangat memprihatinkan. Penjualnya adalah mereka yang sekaligus bertugas sebagai tukang bersih-bersih gedung. 

Sedang Perubahan nonfisik, suasana ‘beda’ itu terlihat pada mula pertama kali pembayaran ini ditetapkan. Misal saja, suasana antri pembayaran. Budaya antri di Mesir sudah sangat biasa, yang membedakan dengan negara kita adalah tingkat ketertibannya. Loket kampus yang semula mempunyai sedikit fungsi semisal sebagai tempat pengambilan beasiswa al Azhar ini mendadak ramai dengan antrian.  Sebagai pengalaman yang tak terlupakan mahasiswa yang sempat merasakan mula adanya pembayaran ini sangat beragam.
Ada yang merelakan antri penuh sesak dengan desakan tubuh orang Mesir yang mayoritas lebih besar daripada ukuran tubuh kita.
Ada yang merelakan berdiri berjam-jam dibawah terik matahari Mesir.
Ada pula yang rela untuk mendahului antrian dengan datang lebih awal, mungkin dapat dikatakan sangat awal, karena adik kelas saya saat itu sudah kompakan berangkat sebelum waktu subuh! Dan sebagai tambahan, kerneh belum tentu bisa didapatkan tepat pada hari itu juga!  

Semua ini dilakukan demi untuk mendapatkan kerneh sebelum tiba waktu ujian, yang isunya harus membawa serta kerneh tersebut saat memasuki ruang ujian. Berbagai cara sistem antrian dibuat sedemikian rupa. Penguasanya ya mereka yang lebih dulu tiba di depan loket. Bahkan sebelum masuk pintu gerbang, ada yang sukarela membagikan kertas nomor antrian.
Ada pula satpam yang sempat mengusir kedatangan teman-teman, para pengantri sebelum waktu subuh yang juga sudah berjubel, membludak, dikira mau demo! Oalah…. Saya adalah termasuk mahasiswa yang bisa dikatakan cuek dengan adanya suasana ‘beda’ itu. Saya tidak pernah merasakan antri berdiri berjam-jam, datang sebelum subuh dan diusir satpam. Tapi sempat saya beberapa hari sebelum waktu ujian ikutan antri dengan sedikit desakan teman-teman Mesir tersebut, karena saya dan teman-teman
Asia lainnya membuat format antri tersendiri, sebagian berada tepat di depan loket, sebagian lagi barisan belakang yang menaiki kursi dan fentilasi jendela. *Kebayang gak siy atas deskripsi saya?!* Malahan waktu itu saya akhiri acara antrian dengan mengantarkan adik kelas (anak baru) yang pingsan akibat berdesakan antri! Setelah sudah sempat merasakan antrian dan kerneh tidak didapat hari itu juga, saya sudah tidak peduli lagi. Berniat membawa paspor saja saat ujian, dan memang saya lakukan masa itu. Buktinya, ya… gak masalah;P  

Empat tahun sudah berjalan adanya kewajiban biaya kuliah itu. Sedikit demi sedikit suasana ‘beda’ itu sudah tidak menjadi pemandangan asing dalam penglihatan kami sebagai Masisir. Tapi ada suasana ‘beda’ lagi yang sedikit membanggakan. *haiyyah!* Pada ruangan administrasi, sudah tidak sedikit adanya komputer dan pegawai-pegawai muda yang lebih energik. Memang sebelumnya?! Ya tulisan tangan yang diarsipkan pada lemari oleh pegawai yang sudah berumur.  Dan itulah satu dari kehebatan al Azhar yang hingga pada era ini masih mempertahankan proses pendokumentasian dengan tulisan tangan, sangat klasik! Tapi jangan coba-coba meremehkan para pegawai yang sudah berumur itu. Mereka mempunyai daya ingat yang kuat sebagaimana mayoritas bangsa Arab lainnya. Mereka dapat menghafal letak dokumen-dokumen mahasiswanya yang berumur lebih dari belasan tahun! 

Dengan dimulainya penertiban administrasi dengan komputer, usaha ini membuahkan hasil yang tidak mengecewakan. Seperti kerneh yang saya punyai saat ini, seperti ATM! *Haiiyah, gak usah heran ta! Hehe…* Sebagaimana yang saya tuliskan di awal, mungkin hal ini tidak menjadi sesuatu yang baru bagi teman-teman mahasiswa di
Indonesia. Tapi bagi kami, khususnya saya, berharap dengan adanya kerneh baru ini, universitas al Azhar dapat menertibkan segala jenis administrasi dan keperluan tekhnis lainnya. Dari tingkat awal, soal ujian saya tidak pernah diketik, tuch! Setidaknya waktu saya terkurangi beberapa menit untuk dapat menebak-nebak tulisan tangan mereka pada kertas ujian saya yang mirip Hieroglyph! Sepengetahuan saya, kerneh semacam ini baru hanya dimiliki sebgian mahasiswa al Azhar, seperti yang sudah didapatkan mahasiswa tingkat empat dan
lima jurusan Syari’ah wal Qanun (Hukum Islam dan Perundang-undangan Umum)  

Memiliki kerneh yang mirip ATM ini, bagi saya mempunyai nilai tersendiri. Boleh juga dibilang sebagai pengobat gengsi seperti manakala ada seorang teman yang berlibur ke
Indonesia, dan sempat ayahnya mengetahui dan menanyakan lembaran kertas berukuran sekitar tujuh kali sepuluh sentimeter dengan laminating manual tersebut. “Itu KTM saya, Pak.” Jawabnya. “Heeeh..?!!!” @#$%^&*=?!! NB: Narasi peristiwa ini mengambil sampel Kampus al Azhar cewek untuk mendeskripsikan kerneh baru! Kalo di Kampus Cowok malah belum ada yang dapat kerneh baru ya?!

h1

Amplop Gaji dan Part-Time

April 8, 2007

MisSane 

Saya tidak ingat lagi kapan tepatnya menerima gaji untuk pertama kali. Tapi sebagai mahasiswa yang belum mempunyai pekerjaan tetap, saya bangga sekali dapat melakukan kegiatan positif untuk orang lain. Terlebih lagi jika apa yang telah saya usahakan bermanfaat dan mendapat apresiasi plus uang gaji. Wah… Saya jadi sumringahJ  

Sama halnya cerita saya semasa kecil, mendapatkan angpau lebaran adalah tradisi dalam keluarga saya. Terlepas seberapapun besar jumlah uangnya, tapi kami sebagai anak-anak merasa gembira sekali waktu itu. Meski pada akhirnya uang tersebut akan kembali ke tangan orangtua, saat saya tertidur lelah setelah mengelilingi rumah-rumah sanak saudara. 

Dalam Kamus Ilmiah Populer Kontemporer – Alex MA. Gaji digambarkan sebagai balas jasa atau penghargaan atas hasil kerja seseorang, juga upah kerja yang dibayar dalam waktu tetap. Tapi disini saya akan bertukar cerita tentang gaji dalam arti uang pemasukan mahasiswa luar negeri, khususnya Negara Mesir dimana saya juga turut andil menempuh studi di Kota Seribu Menara ini. Uang pemasukan tersebut tidak terbatas gaji dalam artian yang ada pada kamus yang saya sebutkan di atas, tapi gaji yang mempunyai makna sebagaimana yang akan saya ceritakan. 

Biaya studi di luar negeri tidaklah sedikit, terlebih lagi jika kurs mata uang Rupiah bernilai lebih kecil dibanding Negara tersebut. Beruntung jika kiriman dari orangtua tidak pernah berhenti mengalir dan ajeg. Tapi jika sebaliknya? Atau boleh jadi amplop gaji tersebut sekedar sebagai tambahan uang jajan, pengalaman bekerja dan mungkin juga sebagai ajang belajar mandiri. 

Kuliah di Luar Negeri, tepatnya Mesir tidak seperti kuliah di Negara lain yang mengizinkan mahasiswa bekerja sambilan paroh waktu  atau part-time. Meski ada juga sebagian teman yang lolos pemeriksaan. Tapi justru hal ini dapat menumbuhkan kekreatifan Masisir (Mahasiswa Indonesia di Mesir). Tidak sedikit teman-teman yang membuka usaha untuk dapat membantu pemasukan biaya hidup di Mesir. Semisal biro jasa perjalanan, guide, jasa hotel dan penginapan dibawah naungan organisasi kekeluargaan, membuka usaha jahitan, warung makanan khas Indonesia dan Negara Asia lainnya, membuat Tempe, Tahu, Tauge, yang terkenal dengan sebutan Tripel T, menanam Kangkung, Serai dan bumbu rempah dapur lainnya yang tidak didapat di Mesir, menjalankan usaha persewaan motor, mobil, kamera, sound system, juga barang-barang elektronik sejenisnya dan masih banyak lagi ragam usaha kreatif Masisir yang patut mendapatkan apresiasi.  

Diluar itu, amplop gaji tidak selalu datang dari hasil usaha Masisir yang bersifat komersial. Masih banyak lagi macam kegiatan teman-teman mahasiswa yang bersifat edukatif, sastra, seni, budaya, dan segi bidang lain. Aktifitas ini juga tidak terlepas dari dukungan Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Kairo, PPMI (Persatuan Pelajar dan Mahasiswa
Indonesia) dan puluhan organisasi lain bentukan Masisir (almamater, kekeluargaan, afiliatif,  ormas) juga pers mahasiswa.  

Kegiatan Atdikbud Kairo, PPMI dan organisasi lainnya tersebut tidak hanya mengasah potensi Masisir laiknya sebagai pelajar. Namun para pendukung dana tersebut secara sengaja mengadakan kegiatan perlombaan yang bersifat positif positif untuk lebih mengasah lagi potensi Masisir. Seperti Perlombaan Karya Tulis Ilmiah dan Sastra, MTQ, Kaligrafi, Festival Band dan seterusnya. Sebagai apresiasi, mereka tidak lupa menyisipkan amplop gaji bagi para pemenang yang disertakan pada piagam penghargaan. Hanya mendapat piagam saja rasanya sudah bangga, apalagi ditambah amplop gaji dari hasil karya kita sendiriJ  

KBRI Kairo juga mengusahakan agar Masisir tetap mendapatkan jatah TEMUS (Tenaga Musiman) pada setiap bulan haji. Disana Masisir bertugas untuk membantu kelancaran ibadah dan kegiatan lainnya untuk jama’ah haji
Indonesia selama musim haji berlangsung. Dan amplop gaji untuk kesempatan yang satu ini tidak sedikit loh… 

Tidak terhenti sampai disini. Beberapa lembaga Mesir dan
Indonesia maupun bentuk kerjasama lain mengikutsertakan Masisir untuk dapat membantu kelancaran program kerja mereka. Menjadi penerjemah, pembawa acara, penyiar berita, rujukan konsultasi agama, model pada diktat Language Centre, menjaga stand/bazaar, kru pembuatan sinema, sebagainya dan sebagainya.  

Keluar dari kegiatan itu semua, ada juga amplop gaji tetap Masisir yang berbeasiswa, yang disebut ‘Minhah’. Beasiswa ini diajukan Masisir kepada lembaga pemerintah ataupun non pemerintah Mesir atau Negara lainnya yang menyediakannya.  

Wah…Jika saya bisa memanfaatkan waktu dengan baik dan termasuk sebagai mahasiswa kreatif dan berprestasi seperti diatas, betapa beruntungnya saya! J

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.