MisSane
“Bronis” Dengan pelan ia mengeja sembari jemarinya menekan tut-tut keyboard komputer yang didepannya. Bibirnya manyun seketika saat Google, situs layanan pembantu pencarian data itu tidak memberikan hasil yang diinginkannya.
“Broonise” Sekali lagi ia mengetik nama jenis kue yang ia maksud, berharap ia dapat menemukan resep dan cara pembuatannya. Namun Google tetap memunculkan layar yang sama: Pencarian data yang dimaksud, tidak dapat ditemukan! Yang didapatnya hanya artikel berbahasa aneh yang tak pernah dipelajarinya di sekolah.
Bibirnya kian manyun, hatinya semakin kesal. “Aku harus bisa mendapatkan resep itu” Tekatnya. Ditulisnya sekali lagi kata itu dengan sedikit mengubah tatanan hurufnya.
“Bronisse” Jemarinya menggertak kesal menekan tombol ‘enter’. Seketika itu juga seluruh pengunjung warung internet melirik kearahnya. Reflek kepalanya menoleh ke sekeliling sembari memberi senyum malu dan wajah inosen. Kali ini ia menyerah. Ia menunggu jarum jam melintasi satu putaran, enam puluh detik, agar tidak terlalu menarik perhatian. Lalu ia berjingkat dari duduknya dan menuju kasir.
Dalam perjalanan pulang dengan mimik wajah yang tidak berubah, ia terus berjalan menelusuri gang sempit jalan pintas menuju kost-nya. Hatinya tetap murung dan menggerutu, “Salah huruf apa sih…” Ia tetap penasaran, berniat mempercepat langkah kakinya agar lekas sampai di kost-an. Tujuan pertama sesampai di kamar adalah memperhatikan penulisan nama jenis kue yang ada di judul film yang baru-baru ini ia tonton bersama teman-temannya.
“Asalamu’alaikum” Ia memberi salam sembari ditutupnya pintu kamar. Teman sekamarnya heran, dengan sorot mata penuh tanya ditambah semakin dekatnya kedua ujung alis mata, bibirnya terbuka mengawali pembicaraan, “
Ada apa sih, Lan. Kok suntuk gitu?”
“Jawab dulu dong orang yang kasih salam!” Gadis muka suntuk yang ternyata bernama Bulan itu membalas dengan kalimat yang tidak memuaskan jawaban Tiwi, teman sekamarnya.
“Gak nyambung deh Loe. Iya… Udah dalam hati” Jawabnya seolah membela tak mau kalah.
“Kesel aja.” Bulan singkat menjawab, lalu menyambungnya, “
Ituloh Wi…Kok aku gak berhasil juga ya dapetin resep Bronis. Heran deh…Kayak apa sih tulisannya?” Bulan mulai menjelaskan sembari membuka exel kecil mencari VCD yang dimaksudnya itu.
“Erm?!” Mata Tiwi sedikit terbelalak, alis kanannya sedikit terangkat, lalu…”Hahaha…” Tiwi tertawa terjingkal-jingkal dan mengejek Bulan di sela tawanya itu. “Bulan, Bulan…Polos banget sih, Yang! Lagian ngapain juga cari resepnya, dibantuin berjam-jam di warnet. Yuk, ntar sore gue beliin”
“Ah, Tiwi. Ketauan banget kamu itu anak metropolis yang tiap kali ingin dapetin sesuatu, gak pernah dicapai dengan usaha. Semua serba instan. Berakit-rakit ke hulu dong… Berenang, ke tepian!” Elak Bulan.
“Eh, siapa yang gak usaha?! Emang perjalanan gue ke toko kue gak keitung usaha apa?! Hidup zaman sekarang tuh yang efisien. Yang hemat waktu, tenaga, dan sebisa mungkin memperkecil biaya.” Jelas Tiwi gak mau kalah. “Setuju gak?” Lanjutnya lagi seolah mencari dukungan.
“Gak!” Jawab Bulan minis sambil tersenyum ngambek.
“Hahaha…” Tiba-tiba keduanya terbahak seolah pertandingan seri.
V(^_^)
“Gak cocok sayang…Kerudung kamu mustinya di model dikit biar rapi ‘n modis gituloh! Intinya kan nutupin aurat, bukannya gak boleh modis.” Tiwi berjingkat dari kasurnya menghampiri Bulan yang sedang bersiap-siap berangkat bimbel, bimbingan belajar. Lalu membantu merapikan kerudung Bulan.
“Kamu malu ya, Wi. Jalan sama aku ke Primagama?” Tanya Bulan polos dengan wajah yang sedikit memelas. Tangannya memegang peniti.
“Enggak…Jalan sama gembel ato loe gembel juga gue gak malu.” Tiwi malah mengejek lucu. “Gue cuman gak suka aja liat cewek-cewek di tempat bimbingan yang jilbabnya gak rapi, eh malah ada juga yang nekat gak disetrika! Kayak gitu kan bikin image muslimah tuh gak rapi. Dari penampilan aja udah gak nyenengin, belom lagi yang pergaulannya yang eksklusif, memandang dirinya paling bener, trus…” Cerocos Tiwi gak bakal selesai kalau Bulan gak buru-buru menghentikannya, kepalanya sedikit tertusuk jarum.
“Awh!” Teriak Bulan reflek. “Iya-iya…Tante! Cepetan, itu udah jam sepuluh tiga puluh. Nanti telat. Untung kita masuk jam ketiga.” Sambung Bulan.
V(^_^)
“M, N, O, P. P, Paa…
Padang Bulan.”
Ujung jari telunjuk Bulan akhirnya berhenti setelah ia menemukan namanya. Daftar nilai hasil try out itu berjubel dipenuhi anak-anak muda peserta bimbingan belajar. Batu loncatan untuk dapat berhasil lulus pada SPMB atau dulu yang akrab kita kenal dengan nama UMPTN. Hari ini hari terakhir Bulan dan Tiwi indekost di Yogyakarta.
“Gimana Lan, OK gak?!” Tanya Tiwi sambil menepuk pundak Bulan mengagetkannya.
“Eh, Tiwi. Belum bisa masuk, dikit…lagi.” Jawab Bulan sedikit sedih.
“Alhamdulillah dong! Itu namanya Loe usahanya perlu ditambahin dikit lagi. Kalo’ udah gitu, ntar insyaallah loe bakal ketrima. Percaya deh.” Hibur Tiwi.
“Kamu Wi?” Tanya Bulan kemudian.
“Ya, alhamdulillah.” ” Eh, balik yuk! Loe kan janji mau anterin gue ke Mirota. Gue mau borong batik, sekalian cari oleh-oleh buat keponakan” Bergegas Tiwi membalas pertanyaan Bulan lalu dengan cepat ia membicarakan topik yang lain.
V(^_^)
Sore harinya, dua gadis belia yang dipertemukan Tuhan pada kesempatan yang keduanya sama-sama mengambil bimbingan belajar di Yogyakarta, dan kebetulan juga satu kost itu menghabiskan waktu mereka menelusuri Malioboro.
Padang Bulan, gadis kelahiran Parakan, Temanggung Jawa Tengah ini memang masih lugu dan polos. Dari sekolah menengah pertama sampai menengah umum, orang tua Bulan memasukkannya ke sekolah pesantren. Orang tuanya adalah pedagang sekaligus pemborong hasil pertanian yang cukup kaya di desanya. Kedua orang tua Bulan tidak sempat melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi. Namun mereka berharap Bulan dapat mewujudkan cita-cita mereka. Lain Bulan lain juga Tiwi, anak bungsu dari seorang kontraktor. Lahir dan besar di Jakarta. Cara berpikir Tiwi juga banyak dipengaruhi sekelilingnya. Meski demikian, namun ibu Tiwi yang sudah berusia senja juga dosen perguruan tinggi itu banyak meluangkan waktunya untuk mendidik Tiwi dan kakak-kakaknya dari segi moral dan spiritual.
Dan dua gadis itu tengah asyik berbelanja…
V(^_^)
Suatu pagi, keesokan harinya. Kedua gadis itu sedang membahas perpulangan mereka. Tiwi berencana berkunjung ke rumah Bulan terlebih dahulu sebelum kembali ke ibu kota.
“Musti ganti bus dua kali?!” Tanya Tiwi sedikit kaget, “Bukannya Temanggung itu deket sama yogya? Mending kita naek travel aja, Lan. Selain gak usah naik, turun, dan berkali-kali berhenti di terminal, kita juga nyaman, aman, leluasa, pokoknya kayak kita kalo pake mobil sendiri. Gimana?!” Lanjut Tiwi menjelaskan seraya memberi solusi.
“Tapi rumah aku itu pas banget di sebelah terminal, Wi. Selain itu naik bus itu yang jelas lebih murah daripada naek travel. Harganya bisa jadi setengah harga daripada naik travel, atau bisa jadi sepertiganya. Kan kamu yang ngajarin kalo kita musti hidup ekonomis.” Bulan menjawab dengan pendapat yang sama kuatnya.
“Ampun, Bulan…Loe tuh Jawa banget ya?! Berarti selama ini loe gak memperhatikan pelajaran gue dengan teliti, seksama. Cerdas dikit dong nangkep sesuatu. Gue kan selalu bilang, kalo gaya hidup ekonomis itu merupakan alternatif terakhir. Yang utama adalah keselamatan.” Sanggah Tiwi menambahi.
“Emang naik bus itu gak aman, Wi?! Gak selamat?!” Bulan tak mau kalah menyangga.
“Ampun orang Jawaaa…Selama kita masih bisa bayar travel, ya udah kita pilih yang lebih selamat. Sama halnya kalo kita punya harta lebih dan bisa gaji pembantu, kita wajib punya pembantu. Kasian kan
mereka susah nyari kerjaan.”
“Kamu mulai rasis deh, Wi. Lagian kalo mau bantu orang, kan gak musti jadiin mereka jadi pembantu. Apalagi kita punya harta lebih, uang seratus lima puluh ribu yang biasa buat gaji mereka sebulan gak ada harganya kan buat kita?!”
“Ini nih satu lagi sikap orang Jawa, terlalu dan sangat menaruh kasian terhadap orang yang lemah, yang serba kurang. Pemikiran yang gak mendidik. Kecuali kalo wujudnya adalah bener-bener beramal, bersedekah. Lagian orang kekurangan yang cerdas juga enggan berpangku tangan. Lagian loe di pesantren gak pernah denger hadis nabi ya? Yang kasih tau kita bahwa Allah itu gak suka pada hambanya yang lemah.”
“Maksud kamu biar lebih kuat, kita musti rajin olah raga,gitu?”
“Hahaha…” Keduanya terbahak, berjingkal bersama-sama.
Akhirnya mereka memutuskan pulang naik travel. Meski ternyata di tengah jalan, tiba-tiba mobil travel itu mogok. Untungnya mereka tidak menunggu terlalu lama.
Sepanjang perjalanan menuju Parakan, Bulan dan Tiwi tidak banyak mengobrol. Mereka lebih asyik memperhatikan pemandangan sekitar kanan-kiri mereka. Dilihatnya Gunung Sundoro dan Gunung Sumbing, dari kejauhan gunung-gunung itu nampak seperti lukisan alam yang menakjubkan.
Tapi bukan itu yang ada pada benak Bulan saat memperhatikan gunung-gunung itu. Mungkin karena terlalu sering ia melewati jalan yang memperlihatkan pemandangan alami itu. Mata Bulan ternyata lebih jeli, ia lebih memperhatikan lapisan warna yang ada pada kedua gunung tersebut.
“Lihat deh, Wi.” Akhirnya Bulan mengawali pembicaraan. “Perhatiin deh, warna gunung itu. Warna bagian atas gunung itu nampak sejuk, begitu hijau. Tapi sepertiga dari gunung yang berada di kakinya nampak merah.”
“Maksudnya?” Tanya Tiwi penasaran. Mulutnya sibuk mengunyah Bakpia Pathok.
“Itu yang aku maksud, kenapa aku sangat berharap bisa kuliah jurusan kehutanan. Suatu hari nanti aku ingin mengelolanya. Warna merah yang ada di kaki gunung itu menandakan bahwa daerah itu sudah tidak dapat dijumpai pohon-pohon. Takutnya kalo warna itu kian merembet ke atas. Penebangan hutan perlahan-lahan, meski tidak disadari penduduk hal itu bisa berdampak negatif. Erosi. Padahal belum tentu juga mereka menebang pohon untuk tujuan pemukiman, ato pemanfaatan yang lain. Penduduk yang berada di daerah kaki gunung itu biasanya menebang pohon hanya untuk diambil kayunya, dijadikan bara api untuk memasak.” Bulan bercerita penuh keseriusan, Tiwi pun terbawa untuk terus mendengarkan. Lalu Bulan melanjutkan ceritanya.
“Tapi orang tuaku kurang setuju, PMDK IPB itu terpaksa aku lepaskan. Itu sebabnya orang tuaku menyarankan aku untuk mengikuti SPMB. Memilih jurusan yang lebih realistis katanya.”
“Alasan mereka ngelarang loe masuk kehutanan?” Tiwi menanggapi cerita.
“Ya, biasa. Seperti yang biasa kamu bicarakan tentang orang jawa. Masih banyak percaya takhayul. Mereka bilang, sebagai perempuan, aku gak pantas keluar-masuk hutan, katanya di hutan banyak setan yang bergelayut di pohon-pohon besar yang berusia ratusan tahun itu.”
“Hahaha…” Tiwi reflek terbahak. “Ampun…Kasian deh loe, Lan. Hahaha…” Tiwi lagi lagi tertawa dengan nada mengejek.
Dan mobil travel itu tetap melaju…
V(^_^)
Tiga hari berlalu, dan akhirnya Tiwi pamit, pulang ke Jakarta.
V(^_^)
Seperti biasa saat Bulan menghabiskan hari-hari libur di rumah, Bulan cukup bosan dengan hanya berdiam diri, menonton televisi. Rumah Bulan sepi, kedua orang tua Bulan tengah sibuk di pasar. Mereka tidak membutuhkan Bulan untuk membantu, sudah cukup banyak kuli yang memenuhi toko mereka.
Jum’at pagi, sekitar pukul sembilan saat Bulan sedang asyik di depan televisi, ada seseorang yang sedang mengetuk pintu. Bulan berjingkat, lalu membukakan pintu. Satu kaki Bulan tergerak ke belakang, kaget. Diantara tamu-tamu itu tidak ada yang berbadan utuh, kecuali sepasang lelaki dan perempuan yang berada di barisan paling depan. Diantara mereka ada yang tidak mempunyai hidung, telinga, tangan, kaki. Bulan merinding.
“Ibunya ada, dik?” Tanya tamu itu. Belum sempat Bulan menjawab, seketika itu ayah Bulan datang. Sampai pada akhirnya tamu-tamu itu dipersilahkan masuk. Ayah dan ibu Bulan menemani mereka dan Bulan melanjutkan menonton televisi.
Dua jam sudah orang-orang itu bertamu. Hati Bulan semakin tidak tenang, terdengar suara ayah Bulan meninggi. Begitu juga suara tamu perempuan.
“Saya harap ibu tidak ikut mencampuri urusan yang ibu tidak ketahui.” Kata ayah bulan kemudian.
“Mencampuri bagaimana, dia suami saya. Saya jelas tau duduk persoalannya.” Jawab perempuan itu tak kalah sinisnya.
“Maaf, Bu. Tapi yang punya urusan secara langsung itu suami ibu, memang dulu dia pelanggan saya.” Terdengar suara ibu Bulan yang lembut. Sedang tamu-tamu yang bertubuh tidak utuh tadi hanya terdiam, seolah menjadi penonton.
Lagi-lagi Bulan terkaget, saat ayahnya memasuki ruang tengah, tempat dimana Bulan menonton televisi. Ayah Bulan berjalan menuju kamar dan keluar dengan membawa sebilah pedang. Bulan bergegas menghalangi ayahnya. Dikuncinya pintu yang memisahkan antara ruang tamu dan ruang tengah. Seisi ruang tamu hening, hanya wajah-wajah yang mempunyai sorot mata penuh emosi yang nampak oleh Bulan.
“Bulan. Buka, Nak!” Teriak ayah Bulan sambil menggedor pintu.
“Tidak! Ayah sedang emosi, ayah tidak boleh membawa pedang itu!” Jawab Bulan terisak. Beberapa detik kemudian ayahnya menjawab. “Baiklah…”
Perlahan Bulan membuka pintu. Lalu mereka melanjutkan pembahasan. Dilihatnya di teras ada banyak orang-orang serupa duduk di atas tikar. Orang-orang yang bertubuh tidak utuh. Bulan semakin takut. Ia duduk disamping ibunya sampai akhirnya ikut dalam pembahasan urusan tersebut. Hingga Bulan sedikit-banyak bisa menangkap apa yang sedang mereka permasalahkan. Hadir juga bapak kepala desa di rumah keluarga Bulan.
Orang-orang buntung itu ternyata adalah petani. Mereka adalah petani bawang putih Sinco dari salah satu desa di Banyuwangi, Jawa Timur. Dan laki-laki ‘normal’ yang datang beserta istrinya itu adalah perantara mereka. Makelar yang menjualkan hasil tani mereka.
Permasalahan berawal dari sekitar dua tahun silam. Makelar itu adalah pelanggan ibu Bulan. Karena sifat ibu Bulan yang mudah percaya terhadap para pelanggannya, ibunya mempercayakan makelar itu untuk saling bertukar hasil tani. Ibu Bulan memberinya satu truk bawang putih lokal dan makelar itu menukarnya dengan satu truk bawang putih Sinco yang ternyata hasil tani orang-orang buntung itu, orang-orang berpenyakit kusta. Karena selisih harga bawang putih lokal lebih tinggi daripada bawang putih Sinco, akhirnya makelar itu menjanjikan ibu Bulan untuk mengirimkan sisa uangnya melalui bank pada hari berikutnya, hari senin.
Hingga dua tahun berlalu dan ibu Bulan sepertinya melupakan piutang itu. Lain dengan cerita yang dibawa orang-orang kusta. Para kusta itu menagih uang penjualan bawang putih Sinco kepada makelar. Tapi makelar itu beralasan bahwa ia belum menerima uang dari pembelinya, yaitu ibu Bulan. Lalu pada akhirnya mereka berbondong-bondong menyerbu rumah Bulan bersama makelar mereka.
“Sudahlah dik. Adik tidak usah ikut campur urusan orang dewasa.” Tiba-tiba saja istri makelar itu menggertak Bulan.
“Seperti halnya ibu bersikeras membela suami ibu, saya juga berhak mewakili orang tua saya. Saya tidak bermaksud membela, jika ternyata orang tua saya salah, saya juga menyalahkannya.” Suara tegas dengan sedikit gemetar itu akhirnya keluar dari bibir Bulan.
“Pak…Kalo bapak mau menagih uang itu kepada istri saya. Mustinya bapak juga ingat, bawang putih lokal yang telah bapak tukar, begitu juga sisa uangnya. Istri saya saja sudah melupakan sisa uang yang seharusnya bapak bayar. Alhamdulillah, kami diberi rezeki untuk melunasi bawang putih lokal yang juga kami ambil dari petani desa kami.” Tutur ayah Bulan. Lalu melanjutkan, “Sudahlah, Pak, hitung semua jumlah nilai tukar bawang putih itu. Saya dan juga istri saya merelakan sisa uang yang seharusnya bapak bayar untuk kami berikan kepada para petani bapak.”
Hari sudah semakin siang, ayah Bulan hendak bersiap-siap ke masjid untuk sholat jum’at. Akhirnya selesai sudah permasalahan itu setelah sekian lama dalam perdebatan. Ayah Bulan menyarankan agar menulis hasil perundingan tersebut diatas kertas dan disertai materai. Bulan bertugas untuk menulisnya atas perintah ayahnya, sementara ayahnya pergi ke masjid.
Saat sebelum para kusta itu pulang, salah satu dari mereka berkata bahwa selama perjalanan dari Banyuwangi ke Parakan, mereka tidak membawa bekal makanan. Belum lagi bagaimana mereka membayar sewa truk yang membawanya ke Parakan untuk menyelesaikan masalah hak mereka. Dengan segera ibu Bulan memasakkan nasi dan beberapa lauk untuk dibawa mereka pulang. Tapi rasa malu dan gengsi para kusta itu menolak pemberian keluarga Bulan. Tidak juga mereka menerima kerupuk sekedar mengganjal perut mereka. Mereka cukup puas dengan kertas bermaterai yang telah diperjuangkan untuk mendapatkan kembali hak mereka.
Bulan melepas kepergian mereka di depan pintu rumah. Satu truk para kusta yang iba. Meski anggota tubuhnya tidak lengkap, tapi mereka punya akal dan rasa sama lengkapnya seperti manusia lainnya.
Tanpa disadari, ayah Bulan sudah berdiri di belakangnya.
“Ayah…” Lirih bulan sembari memeluk ayahnya.
***
September 05, 2005